Berita

ilustrasi

MEMBURU NAZARUDDIN

Cerita Tommy yang Terpaksa Ngumpet di Toilet Bandara

SABTU, 18 JUNI 2011 | 12:57 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Sekitar pukul 20.00 WIB, tadi malam (Jumat, 17/6), pesawat Batavia yang membawa Tommy dari Singapura tiba di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Pria berusa 41 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai IT consultant itu tak langsung keluar dari bandara.

Ia memilih masuk toilet dan mengamati dua lelaki yang mengikutinya sejak dari Bandara Changi di Singapura.

Setelah kedua lelaki yang tak dikenalnya itu hilang dari pandangan, barulah Tommy melanjutkan perjalanan meninggalkan bandara menuju rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan.

“Kami sudah bosan. Seringkali mendengarkan berita yang mengatakan koruptor dan orang-orang bermasalah yang patut diduga melakukan kejahatan korupsi lari dan sembunyi di Singapura. Selama ini pemerintah selalu mengatakan tak bisa menangkap mereka karena tak punya perjanjian ekstradisi,” cerita Tommy ketika dihubungi Rakyat Merdeka Online, tadi pagi (Sabtu, 18/6).

Tommy Diansyah dan empat orang temannya, memutuskan mencari tahu kebenaran hal itu. Orang pertama yang mereka cari adalah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, yang sudah tiga pekan bersembunyi di Singapura. Presiden SBY yang juga Ketua Dewan Pembina partai itu telah mengimbau agar Nazaruddin kembali ke Indonesia untuk memudahkan pengusutan kasus-kasus yang dituduhkan padanya. Begitu juga dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Namun, permintaan kedua tokoh penting Partai Demokrat itu sama sekali tak dipedulikan Nazaruddin. Nazaruddin bertahan di Singapura. Sementara pihak Indonesia tak bisa berbuat apa-apa.

Kelima sekawan itu berangkat dari Batam, Kepualauan Riau, dan tiba siang hari di Singapura hari Selasa lalu (14/6). Tempat pertama yang mereka tujuh adalah Orchard Road, kawasan paling populer yang kerap dikunjungi turis termasuk orang Indonesia.

Tadinya Tommy dkk tak punya rencana menggelar spanduk dan baliho yang di antaranya berisi gambar wajah Nazaruddin di Orchard Road. Tapi belakangan, mereka berpikir, “Mengapa tidak?” Toh banyak orang Indonesia yang lalu lalang di tempat itu, dan bukan tidak mungkin Nazaruddin pun bisa melihat aksi mereka.

Dari Orchard Road mereka menuju KBRI di Chatsworth Road. Mereka minta dukungan dari KBRI di Singapura, dan berencana membuka posko pencarian Nazaruddin di KBRI.

Tentu saja KBRI menolak permintaan itu dan mengusir mereka keluar. Menurut KBRI mereka melaksanakan misi diplomatik, bukan misi penangkapan.

Tommy dkk memilih bertahan dan tidur di luar pagar Keduataan. Berbagai spanduk yang mereka bawa dari Batam digelar. Rabu pagi, pihak KBRI kembali berusaha mengusir mereka.

“Seorang pejabat KBRI bahkan ada yang mengatakan malu karena perbuatan kami. Saya katakan padanya, bahwa yang kami kerjakan ini adalah untuk rakyat Indonesia yang selama ini selalu dibingungkan oleh pemberitaan mengenai koruptor yang kabur ke Singapura. Sebagai rakyat, kami berhak untuk mengetahui apakah benar mereka tidak bisa ditangkap, atau justru dilindungi,” cerita Tommy lagi.

Rabu siang pihak KBRI menghubungi dan memanggil polisi Singapura. Dalam waktu singkat, enam sedan polisi tiba di KBRI dan membawa kelima sekawan itu ke kantor polisi di Tanglin. Di kantor polisi itu, paspor mereka ditahan, dan mereka pun dibawa ke sebuah hostel di Jalan Besar.

Jumat pagi kemarin (17/6), Tommy diutus teman-temannya ke kantor polisi Tanglin untuk mencari tahu apakah paspor mereka sudah bisa diambil. Tommy pergi sebagai volunter.

Kata Tommy tentang hal ini, “Kalau harus mati, biar yang mati saya sendiri. Jangan sampai semua dijebak.”

Sejak itulah, teman-temannya yang masih bertahan di hostel di Jalan Besar itu kehilangan kontak dengan Tommy.

Sarman El Hakim, salah seorang anggota “tim pemburu partikelir” itu, ketika dihubungi Jumat malam sekitar pukul 20.00 WIB, khawatir Tommy ditahan polisi Singapura. Sarman membaca berita yang mengatakan salah seorang anggota tim pencari sudah kembali ke Jakarta. Tapi dia tak bisa menghubungi nomor telepon yang selalu digunakan Tommy di Jakarta.

Tadi malam Rakyat Merdeka Online pun berusaha menghubungi nomor Jakarta milik Tommy, dan tidak berhasil. Baru Sabtu pagi nomor telepon Tommy itu bisa dihubungi.

“Ini permainan KBRI. Mereka memperlakukan kami seperti teroris. Mereka tak mau melindungi kami,” Tommy menumpahkan kekecewaannya pada KBRI Singapura.

Dari mulut polisi Singapura yang menginterogasi mereka, terungkaplah bahwa penangkapan dan penahanan paspor mereka atas perintah KBRI.

“Intinya mereka bilang, KBRI lah yang minta mereka (polisi Singapura) menangkap kami. Tetapi polisi Singapura pun tahu kami tak melakukan kesalahan apa-apa. Jadi mereka juga bingung mau menangkap dengan pasal apa.”

Jumat pagi di kantor polisi Tanglin, Tommy kembali diinterogasi. Kali ini ada sejumlah pertanyaan polisi yang sepertinya titipan dari KBRI. Misalnya, pertanyaan tentang siapa yang membayar mereka untuk mencari Nazaruddin. Menjawab pertanyaan itu, Tommy mengatakan mereka berangkat ke Singapura untuk mencari Nazaruddin atas perintah hati nurani mereka.

Tommy baru dilepaskan sore hari dan langsung dibawa ke Bandara Changi. Polisi Singapura yang mengawalnya ikut naik ke pesawat.

Kata si polisi itu, dia hanya memastikan bahwa Tommy duduk di dalam pesawat dengan selamat. Si polisi ini pun memberi tahu Tommy bahwa ada orang-orang yang mengikuti dirinya.

“Di dalam pesawat ada dua orang yang selalu mengawasi saya. Dia mengikuti saya sampai di Cengkareng. Saya harus masuk toilet dulu untuk mengalihkan perhatian mereka,” demikian Tommy. [guh]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya