Berita

Ramadhan Pohan

Wawancara

Ramadhan Pohan: Buat Apa Lapor Ke Polisi Ini Hanya Urusan Politik

SABTU, 04 JUNI 2011 | 02:54 WIB

RMOL.Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengatakan, pengungkapan Mr A bukan sebagai pengalihan isu yang sedang menghantam Partai Demokrat.

Ramadhan mengajak kepada lawan-lawan politik Partai Demo­krat untuk bersikap fair dan ksatria dalam melakukan kom­petisi politik.

“Saat bencana alam Wasior, kita pernah dibilang melakukan pengalihan isu. Jadi begini saja, kepada lawan-lawan politik dan siapa saja, mari kita berkompetisi politik secara fair dan ksatria. Mari kita bekerja untuk rakyat,” papar anggota Komisi II DPR itu.

Menurutnya, melakukan kriti­kan terhadap pemerintah boleh saja. Tapi jangan melakukan se­rangan politik yang sifatnya fit­nah atau menonjolkan diri dengan menginjak kepala orang lain.

Untuk itu, lanjutnya, masing-masing partai politik silakan mengurus rumah tangganya. Jangan mencampuri urusan partai lain, apalagi sampai menyebar­kan fitnah tidak jelas.

“Ke depan jangan ada lagi SMS gelap. Tidak ada lagi fitnah politik. Jangan ada lagi serangan politik dari ekternal ke internal partai politik. Lebih baik urus rumah tangga sendiri. Jangan mengompori rumah tangga partai lain agar meledak,” bebernya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa yang mendasari Anda menyebut Mr A?

Hal ini berawal dari pertanyaan wartawan yang minta tanggapan saya soal SMS gelap terhadap SBY. SMS  gelap itu disampaikan dengan sebuah rencana yang se­rius, terstruktur, rapi, dan mem­pu­nyai tujuan jelas. Ini bukan orang santai atau iseng. Kemu­dian saya jelaskan, tuduhan keji yang ada di SMS gelap itu meru­sak martabat serta pembunuhan karakter terhadap Pak SBY dan keluarga besar PD. Lalu saya kata­kan masih ada lagi serangan, tuduhan, tudingan yang mem­fitnah internal Demokrat.

Salah satunya serangan dari Mr. A yang ingin Demokrat rubuh reputasi dan citranya dengan memanfaatkan situasi internal di Demokrat. Dari sana baru muncul masalah Mr A yang merupakan hanya bagian dari jawaban saya terhadap rangkaian serangan-se­rangan terhadap PD yang be­gitu banyak dan panjang.

Awalnya Anda mendapat­kan nama itu dari mana?

Nama itu awalnya muncul dari laporan internal Demokrat. Nah dari sana ada jejaknya. Masalah jejaknya seperti apa, tentu saya tidak bisa detailkan karena ini bu­kan kriminal, ini adalah manuver dan manuver politik biasa dilaku­kan dalam dunia politik. Artinya, ketika saya katakan Mr A, itu supaya dia tahu bahwa kami sudah mengetahui dan warning agar jangan melakukan lagi. Kalau misalnya dia melakukan lagi ke depan, jualan dia itu tidak hanya akan kami beli tetapi akan kami borong sekalian.

Kenapa Anda tidak mem­buka identitas Mr A?

Tujuan kami bukan untuk mengungkapkan, tapi warning saja. Saya yakin bahwa yang bersangkutan sadar dan tidak melakukan lagi. Karena kami di PD tidak pernah mengobok-obok partai lain, kami tidak pernah bermanuver untuk menghancur­kan dan merubuhkan image partai lain, kurang kerjaan itu namanya.

Apa Mr A yang melakukan SMS  yang gelap?

Saya bisa memastikan bahwa itu bukan dilakukan  Mr A. Saya bilang kelasnya beda. 1.000 per­sen dugaan saya bukan dia yang melakukan. Yang satu adalah politisi dan satunya kelasnya ma­fia. Untuk SMS gelap itu adalah mafia kelasnya.

Kenapa Anda tidak melapor­kan Mr A ke polisi?

Ini adalah peristiwa politik, ngapain saya mengadukan poli­tisi A itu ke polisi. Kalau SMS gelap, kami polisi untuk menang­kap segera pelakunya dan mem­bongkar jaringannya.

Tapi ada partai yang me­minta agar Anda menjelaskan kasus ini?

Saya sudah dengar itu, me­minta saya menjelaskan, karena mereka merasa tidak melakukan. Saya katakan begini, Bambang Soesatyo tidak perlu panik, se­nyum-se­nyum saja lah. Ini  bu­kan untuk orang-per orang.

Secara personal, ada yang kom­plain terhadap anda?

Ada juga yang komplain me­lalui twitter saya, mengaku poli­tisi ini, politisi itu, tidak jelas inti­nya. Ada yang mengaku nama­nya Aidar, Ainul, Ahdar dan lain-lain yang men-twitter saya, mereka komplain bahwa mereka merasa terzolimi karena dibilang ingin merongrong PD. Maksud saya Mr. A ini kan politisi yang sudah dikenal di kelas menengah Indo­nesia, lalu siapa Ainul, siapa Aidar tidak ada yang ke­nal, jadi jangan lang­sung merasa. [RM]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Bahaya Framing, Publik Jangan Mudah Diadu Domba di Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:36

Memahami Trust: Energi yang Hilang

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:22

Kapolri Imbau Masyarakat Manfaatkan WFA Jelang Puncak Arus Balik Mudik

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:19

Penjualan Tiket KA Jarak Jauh Tembus 101 Persen Saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:45

Polri: Arus Balik Mudik ke Jakarta Meningkat hingga 73 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:29

Badko HMI Jabar Diteror Usai Bahas Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:51

Hari ke-12 Operasi Ketupat: Jumlah Kecelakaan 198, Meninggal 18

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:01

Mengapa Harga iPhone 15 Tiba-Tiba Melambung Naik Jutaan Rupiah?

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:46

Kembali ke KPK, Yaqut: Alhamdulillah Bisa Sungkem

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:28

Apa Itu Post Holiday Syndrome Usai Lebaran 2026? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:18

Selengkapnya