Berita

Taufik Kiemas

Wawancara

WAWANCARA

Taufik Kiemas: Pemerintah Perlu Membentuk Badan Sosialisasi Pancasila

SENIN, 30 MEI 2011 | 06:40 WIB

RMOL. MPR mendesak pemerintah membentuk suatu badan yang bertugas memberi pengertian kepada para kaum muda Indonesia bahwa Pancasila adalah dasar kehidupan bernegara.

“Semua lem­baga setuju untuk mendorong agar pemerintah membentuk lem­baga yang me­miliki posisi stra­tegis dalam memberikan pema­haman Panca­sila kepada anak muda Indone­sia. Namun format lembaga itu kita serahkan kepada pemerin­tah. Bisa saja berbentuk komite, ba­dan, atau lembaga,” ungkap Ke­tua MPR, Taufik Kiemas, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Ketua Dewan Pertim­bangan Pusat PDIP itu,  lembaga tersebut tidak seperti P4 saat Orde Baru, sehingga tidak perlu kha­watir Pancasila disalahgunakan untuk kekuasaan sesaat.


Sebab, walaupun lembaga itu dibuat pemerintah, supervisi dan materi berasal dari MPR.

“Lembaga itu dibuat bersama-sama dengan fraksi-fraksi yang ada di MPR,” ungkap suami Mega­­wati Soekarnoputri itu.

Berikut kutipan selengkapnya;

Yakin nih lembaga itu tidak disalahgunakan?
Saya pastikan bahwa lembaga tersebut berbeda dengan P4. Saya jamin pasti berbeda. Misalnya saja berbentuk komisi, itu kan tidak bisa menindak dan tidak bisa menghukum seseorang tanpa alasan yang jelas. Saya rasa for­mat­­nya terbuka bagi masya­rakat untuk ikut serta dan me­man­tau­ nya. Pers diperbolehkan ma­suk di dalamnya.

Bagaimana dengan wewe­nang badan atau lembaga ter­sebut?
Mengenai masalah itu, belum kami rumuskan secara rinci. Tetapi yang jelas tidak memaksa dan menghukum orang.

Lalu mengenai payung hu­kum­nya?
Yang jelas payung hukumnya adalah Pancasila. Tapi yang pen­ting sekarang bagaimana Panca­sila itu bisa tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Saya setuju dengan pendapat Pak Mahfud MD dan Pak M Nuh pada pertemuan lalu. Biar kita nguap-nguap sepanjang masa, kalau pers tidak mem­bantu, lang­kah yang sudah kita rencanakan akan sulit berjalan.

Apa dalam per­temuan antar lem­baga di MK sudah dibi­cara­kan soal pem­ben­tukan badan tersebut?
Pertemuan 24  Mei itu me­mang fokus­nya ke­pada Pancasila yang dianggap isu terpenting. Se­benar­nya kita ingin mem­bicarakan ma­sa­lah-ma­salah lain, tapi Pak Mahfud beri­nisiatif untuk mela­kukan diskusi tentang Pancasila sebagai ideo­logi negara dan fal­safah hidup berbangsa dan bernegara.

O ya, bagaimana model so­sialisasinya?
Dalam menentukan model so­sialisasinya, sedang kami rancang dengan berbagai macam ahli. Salah satunya adalah bagaimana Pancasila itu cepat masuk ke da­lam pikiran orang dan bisa dihafal.

Kalau seseorang tidak hafal dengan Pancasila, mana bisa menghayati ideologi dan falsafah bangsanya. Selain itu, MPR me­lakukan hiring dengan ahli pen­didikan, ahli tata Negara, dan beberapa tokoh untuk mem­per­kuat Pancasila.

Apa pembuatan lembaga ini mengikuti studi kasus dari negara lain?
Kita mengambil contoh yang sudah dijalankan oleh beberapa negara, seperti Amerika yang memiliki beragam ras. Di Ame­rika terjadi kesulitan dalam penyampaian ideologi negaranya. Sebab, perubahan generasi tiap waktu. Cara penyampaiannya pasti berubah.

Lalu kita bandingkan dengan negara kita yang sudah 13 tahun tidak pernah ada sosialisasi Panca­sila secara masif kepada masyarakat. Yang penting seka­rang bagaimana memotivasi masyarakat agar sadar dan peduli dengan ideologi bangsanya.

Peringatan hari lahir Pan­ca­sila 1 Juni nanti, bekas Presiden Megawati Soekarnoputri dan BJ Habibie diberi kesempatan untuk berpidato bersama  Pre­siden SBY, apa ada tujuan politis?
Tidak ada alasan semacam itu. Perubahan format itu karena kami ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kita bisa bersatu dengan Pancasila. Ini yang saya heran, kita ingin akur saja kok tidak senang. Itu sangat sederhana, mari kita maknai tanggal 1 Juni mendatang sebagai momen menyatukan bangsa kita. Ini juga sebagai langkah awal untuk memperbaiki nasib bangsa kita.   [RM]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Bahaya Framing, Publik Jangan Mudah Diadu Domba di Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:36

Memahami Trust: Energi yang Hilang

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:22

Kapolri Imbau Masyarakat Manfaatkan WFA Jelang Puncak Arus Balik Mudik

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:19

Penjualan Tiket KA Jarak Jauh Tembus 101 Persen Saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:45

Polri: Arus Balik Mudik ke Jakarta Meningkat hingga 73 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:29

Badko HMI Jabar Diteror Usai Bahas Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:51

Hari ke-12 Operasi Ketupat: Jumlah Kecelakaan 198, Meninggal 18

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:01

Mengapa Harga iPhone 15 Tiba-Tiba Melambung Naik Jutaan Rupiah?

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:46

Kembali ke KPK, Yaqut: Alhamdulillah Bisa Sungkem

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:28

Apa Itu Post Holiday Syndrome Usai Lebaran 2026? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:18

Selengkapnya