Berita

Dunia

Inilah Lima Jurus Sakti yang Harus Dimainkan Eropa untuk Menghentikan Revolusi Afrika Utara

MINGGU, 17 APRIL 2011 | 23:07 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Sudah hampir setengah tahun api revolusi membakar Timur Tengah, khususnya kawasan Maghribi di utara benua Afrika. Masyarakat internasional semakin hari semakin khawatir konflik di kawasan itu, atau setidaknya dampak buruk yang dihasilkan dari kegagalan pemerintahan negara-negara di kawasan itu, akan menyebar dengan cepat ke kawasan lain.

Eropa yang hanya dipisahkan oleh jarak sepelemparan batu dari Maghribi, jelas merasa paling terancam. Beberapa waktu belakangan ini berbagai laporan dari sejumlah lembaga internasional menyebutkan bahwa instabilitas di kawasan itu telah dimanfaatkan oleh berbagai kelompok petualang untuk memperluas wilayah operasi mereka. Berbagai aktivitas terlarang mulai dari perdagangan manusia, perdagangan senjata, sampai penyelundupan obat-obatan terlarang meningkat tajam mengirimi konflik yang tak tertahankan ini. Begitu juga dengan aksi terorisme.

Dari lima negara Afrika Utara, hanya Kerajaan Maroko yang terbilang stabil. Gelombang revolusi, yang menghantam Tunisia, Mesir dan Libya juga Aljazair, tak bertiup ke arah Maroko.

Berbagai penyebab mengapa Maroko berhasil menghadapi gelombang revolusi telah sering dibahas. Antara lain, karena berbeda dengan empat negara lain di kawasan itu, Maroko jauh-jauh hari telah memberikan ruang yang cukup luas bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi lewat saluran-saluran demokratis yang ada.

Menurut Association for International Affairs (AIA), sebuah NGO yang bermarkas di Praha, Republik Czech, Uni Eropa harus ikut memikirkan bagaimana caranya agar api revolusi di Maghribi dapat segera dipadamkan sehingga tak mengancam keseluruhan Eropa. Dalam kertas kerja berjudul “The Changing Security Situation in the Maghreb” yang dihasilkan empat peneliti AIA, yakni Daniel Novotný, Abdessamad Belhaj, Marek Čejka, Alice Savovová, disebutkan bahwa setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan Uni Eropa.

Pertama, Uni Eropa harus mendukung proses demokratisasi dan melindungi warga di negara-negara di kawasan itu yang sedang dilanda badai politik. Kedua, masyarakat Eropa juga diminta untuk memberikan perhatian ekstra pada isu keamanan manusia. Ketiga, di atas semua itu, Uni Eropa harus mempromosikan pemberdayaan masyarakat Maghribi. Bagi kalangan pemuda Maghribi, persoalan mengenai manusia dan kemanusiaan merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar lagi. Selain itu, pemuda Maghribi juga menganggap bahwa demokrasi berasosiasi dengan kebebasan dan keadilan.

Hal keempat yang harus dilakukan masyarakat Eropa untuk menghentikan konflik di kawasan Timur Tengah dan Maghribi adalah dengan melakukan intervensi yang melibatkan pendekatan tradisional seperti intelijen dan kebijakan luar negeri, serta di sisi lain demokratisasi, pembangunan dan proses keamanan dari bawah.

Terakhir, menurut kertas kerja itu, masyarakat di kawasan Eropa Tengah dan Eropa Timur harus dilibatkan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai proses demokratisasi yang pernah terjadi sebelumnya di Eropa.

Kalangan pemerhati ekonomi dan politik Maghribi berpendapat bahwa gelombang demokrasi 1989 yang terjadi di Eropa Tengah dan Eropa Timur memiliki persamaan dengan gelombang demokrasi di Maghribi saat ini. Menurut AIF, Eropa Tengah dan Eropa Timur dapat menjadi model revolusi di negeri-negeri Arab, khususnya Maghribi. Selain itu, Maroko yang stabil pun dapat dijadikan model ideal bagi negara-negara di kawasan itu. [guh]


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya