RMOL. Perkenalkan, nama saya Taufik Indro Setiyono atau biasa dipanggil Adit. Saya adalah adik bungsu dari Dwi Seno Wijanarko (Seno/DSW) yang saat ini tengah tertimpa musibah besar dalam karirnya di Korps Adhyaksa. Mengapa saya katakan musibah?, karena sebagai adik kandung yang sangat mengenal betul Bang Seno, ditambah dengan adanya asas praduga tak bersalah dalam hukum di Indonesia. Saya secara pribadi dan seluruh keluarga besar yakin seyakin-yakinnya Bang Seno tidak bersalah dalam kasus yang tengah menjeratnya.
Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa pegawai di lingkungan institusi pemerintah baik pusat maupun daerah, di segala sektor dipersepsikan sangat
sarat dengan perbuatan korup, dari korupsi waktu sampai korupsi duit miliaran. Namun ada baiknya kalau kita meresapi peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelagaâ€, keburukan yang tergeneralisasi memang hanya ada dalam tataran persepsi kita, ditambah sepak terjang oknum PNS yang mencoreng nama baik institusi. Tapi di sisi lain masih banyak pegawai jujur yang tulus mengabdi untuk kebaikan bangsa ini. Dan bagi kami Bang Seno adalah pegawai yang jujur dan tulus dalam mengabdi untuk bangsanya.
Mengikuti perjalanan kasus Bang Seno dari mulai penangkapan hingga saat ini, saya sangat merasa perlu untuk menyampaikan sisi lain khususnya kepada rekan media dan penegak hukum yang terhormat, sebagai backgrounders agar terciptapemberitaan yang menuju “balance of informationâ€. Untuk itu saya ingin menjelaskan kepada rekan semua siapa Bang Seno sebenarnya, dan seperti apa kondisi keluarga Bang Seno sesungguhnya.
Mengikuti perjalanan kasus Bang Seno dari mulai penangkapan hingga saat ini, saya sangat merasa perlu untuk menyampaikan sisi lain khususnya kepada rekan media dan penegak hukum yang terhormat, sebagai backgrounders agar terciptapemberitaan yang menuju “
balance of informationâ€. Untuk itu saya ingin menjelaskan kepada rekan semua siapa Bang Seno sebenarnya, dan seperti apa kondisi keluarga Bang Seno sesungguhnya.
Kami semua lahir dari keluarga PNS lingkungan Kejagung. Saya ingat betul, semasa kecil Bang Seno adalah orang yang hanya bicara seperlunya, sejak kecil ia adalah pekerja keras, dari SMP ia sudah bisa membantu orang tua menambah uang sekolahnya dari hasil berternak ayam dan mengangon kambing. Saat di SMA Bang Seno benar-benar menjadi contoh buat kami karena keteladanannya baik dalam hal membantu orang tua, dan beribadah.
Bang Seno memulai karirnya selepas lulus SMA mengikuti test dan lulus sebagai Pamdal (Penjaga Keamanan Dalam) di Kejaksaan Agung. Sambil bekerja, Bang Seno juga mengambil program Sarjana Hukum di Universitas Muhammadiyah Ciputat. Walaupun kurang dalam hal pembiayaan karena penghasilan sebagai Pamdal kurang untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kami sekeluarga memberikan bantuan pembiayaan untuk kuliah Bang Seno sampai akhirnya ia bisa lulus.
Setelahnya, Bang Seno mengikuti pendidikan Jaksa di Kejagung dan berhasil lulus. Ia ditugaskan pertama kalinya di Kejari Ende, Nusa Tenggara Timur selama dua tahun lebih. Yang saya ingat betul, saat Bang Seno akan berangkat tugas ke Ende, ia mengumpulkan keluarga meminta izin untuk menjadikan sertifikat rumah milik orang tua kami sebagai jaminan hutang ke BPR untuk ongkos dan bekal keberangkatannya ke Ende, karena uang pribadi yang ia punya tidak cukup.
Selesai bertugas di Ende. Tak lama kemudian ia ditugaskan sebagai Jaksa Fungsional di Martapura, Kalimantan Selatan. Di sana, ia menjalankan tugas selama lima tahun lebih. Bang Seno sempat membawa serta anak istrinya. Namun karena daerahnya terlalu jauh dari keramaian dan sangat sepi, ia tidak tega karena anaknya sering meminta pulang. Akhirnya ia bekerja sendirian di sana.
Sewaktu di Kalsel, Bang Seno juga bekerja sambil melanjutkan studinya ke S-2 di Universitas Lambung Mangkurat Kalsel. Setelah selesai bertugas di Kalsel, Bang Seno mendapatkan tugas di Kejari Tulungagung, Jawa Timur. Di Tulungagung ia menjalankan tugas selama kurang lebih satu tahun, karena kondisi kesehatan yang kurang baik akhirnya Bang Seno ditugaskan di Kejari Tangerang supaya dekat dengan keluarga.
Dengan kasus yang menjerat abang saya, saya sangat heran dan tidakpercaya Bang Seno melakukan hal tersebut. Di mata saya, ia adalah sosok yang cerdas dan baik, bahkan tidak jarang ia membantu sesama baik secara pribadi maupun kegiatan-kegiatan sosial. Saat pertama kali dinas di Kejari Tangerang, Bang Seno ke kantor pulang pergi mengendarai sepeda motor “Yamaha Mio†dan itupun boleh kredit. Bayangkan saja, mana mungkin kalau memang Bang Seno koruptor, ia mau bertahun-tahun naik motor mio ke kantor dengan panas hujan ia lalui.
Selama ini, Bang Seno belum punya rumah pribadi. Rumah yang selama ini ia tinggali di Tangerang, yang sempat ada pemberitaan kalau rumah tersebut paling mewah di lingkungannya, padahal nyatanya rumah tersebut masuk ke dalam gang sempit tidak muat mobil, adalah rumah milik orang tua kami. Mungkin ada pertanyaan, lalu bagaimana keluarga yang lain, tinggal di mana?. Ada kakak kami yang ikut suaminya, dan saya sendiri pun tinggal bersama anak istri saya di rumah mertua.
Mobil “Daihatsu Terios†yang baru-baru ini ia gunakan untuk bekerja juga mobil boleh overcredit, yang ia cicil setiap bulannya. Ia membeli mobil tersebut, karena Bang Seno mulai tidak kuat mengendarai sepeda motor tambah lagi jika pulang malam, akibat penyakit diabetes yang ia derita. Di sisi lain untuk menambah pencukupan kebutuhan rumah tangganya Bang Seno juga mengajar sebagai dosen di Universitas Bhayangkara (Ubhara) dan terkadang menjadi narasumber, dan sebagainya.
Bang Seno mengabdi di Kejaksaan selama 21 tahun, dengan mendapat dua bintang jasa, pertama masa kerja 10 tahun, dan kedua 20 tahun. Selama mengabdi. Ia telah banyak menangani perkara pidana umum seperti narkoba, dan sebaganya. Serta mengungkap beberapa pidana korupsi di mana ia bertugas. Dalam hal bersosialisasi dengan lingkungan, Bang Seno juga dikenal sebagai orang yang ramah dan ringan tangan terutama dalam membantu sebagai donatur kegiatansosial di lingkungannya.
Sebagai keluarga kami berharap betul, kasus yang menjerat Abang kami tercinta bisa segera selesai dan bisa terungkap siapa sebetulnya yang benar dan yang salah. Kami yakin dari mengikuti perjalanan kasus ini, memang ada keganjilan dalam hati kami terhadap tuduhan yang dituduhkan kepada Bang Seno selama ini. Hal terkecil saja, bagaimana alat bukti yang belum bisa diungkap secara jelas, dan tolong pikirkan, jika benar barang bukti uang tersebut hanya Rp 1,1 juta, apakah masuk akal kalau ini semua betul kasus korupsi?
Di sisi lain, sebetulnya negara yang jelas-jelas dirugikan, biaya yang ditanggung negara jelas jauh lebih tinggi untuk melakukan penyelidikan terhadap Abang kami.
Semoga rekan-rekan media massa, para penggiat keadilan, dan penegak hukum bisa betul-betul melihat dengan jernih apa yang menimpa Abang kami. Sehingga kami keluarga bisa bahagia berkumpul kembali dan Bang Seno bisa bertugas untuk Bangsa dan Negaranya kembali. Amiin Yaa Rabbal Alamiin...
Nomor kontak penulis ada pada redaksi