Berita

ilustrasi/ist

Adhie M Massardi

Antara Cikeusik dan Cikeas

Oleh Adhie M. Massardi
KAMIS, 10 FEBRUARI 2011 | 09:01 WIB

CIKEUSIK dan Cikeas adalah nama dua tempat berbeda yang kalau disebutkan akan mengingatkan kita pada “harapan dan kenyataan” yang berbeda, dalam konteks yang juga berbeda, tapi muaranya ternyata bisa sama.

Cikeas, seperti sudah sama-sama kita ketahui, adalah sebuah desa di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Salah satu rumah di Cikeas merupakan kediaman resmi Presiden Yudhoyono. Dalam sejarah politik modern, Yudhoyono tercatat sebagai Presiden RI pertama yang dipilih langsung. Karena itu, harapan bisa menyejahterakan rakyat tertumpu kepadanya.

Pada periode pertama (2004-2009), saat berpasangan dengan M Jusuf Kalla, harapan rakyat memang belum kunjung terjadi. Tapi dipilih kembali untuk periode berikutnya (2009-2014) karena diduga pada episode terakhir Pak Beye akan all out bekerja demi bangsa dan negaranya.

Akan tetapi, sialnya, sejak hari pertama, tokoh utama Partai Demokrat yang berganti pasangan dengan Boediono ini, sudah didera berbagai isu negatif. Mulai dari skandal rekayasa IT KPU hingga rekayasa bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara hingga Rp 6,7 triliun.

Sejak itu, pemerintah seperti tersandera oleh dua kasus besar itu. Akibatnya, segala tindak-tanduknya dalam pemerintahan harus terus-menerus berkompromi dengan kekuatan politik yang menyanderanya. Tentu saja hal ini membuat nasib rakyat jadi terbengkalai. Sehingga tak bisa mendeteksi dan merasakan nasib rakyat yang kian megap-megap.

Mungkin sampai sekarang juga tidak tahu enam anggota keluarga Jamhamid, yang tinggal di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon (singkong). Keluarga yang termiskinkan oleh berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat ini, terpaksa mengganti makanan pokoknya dari nasi (beras) ke tiwul (singkong) yang jauh lebih murah, tapi resikonya keracunan kalau dikonsumsi berlebihan.

Sementara Cikeusik (arti harfiahnya Kali Pasir), adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kawasan ini ada Kampung Peundeuy (artinya pete), di Desa Umbulan. Di situlah tempat warga Ahmadiyah tinggal. Semula mereka aman dan tenteram hidup menyatu dengan warga setempat. Sampai kemudian, Ahad pekan lalu (6/2), semuanya berubah menjadi horor yang mengejutkan.

Ratusan orang dari luar kawasan, datang menyerang tempat mangkal warga Ahmadiyah itu. Pemukulan, penganiyaan hingga pembunuhan keji menimpa warga Ahmadiyah. Aparat keamanan yang biasanya sensitif terhadap kerumunan massa yang menentang pemerintahan Yudhoyono, kali ini seperti tertidur. Hanya satu dua orang yang tampak. Dalam video yang dipancarluaskan melalui jaringan You Tube, dunia pun menyaksikan video horor yang keji itu.

“Penyerangan brutal terhadap pangikut Ahmadiyah mencerminkan kegagalan pemerintah,” komentar Donna Guest, Deputi Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Pasifik.

Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah tokoh nasional. Tak heran bila headline surat-surat kabar bunyinya kurang lebih seragam: Negara Gagal Lindungi Warga…!

Tragedi Cikeusik, yang (sehari) kemudian disusul peristiwa kerusuhan SARA di Temanggung, Jawa Tengah, memang sangat mengejutkan. Bukan hanya peristiwanya, tapi juga reaksi publik atas semua kejadian itu.

Ternyata sekarang kejadian yang berbau suku, agam, ras dan antargolongan itu, tidak serta merta ditanggapi dengan emosi. Tapi dengan akal dan kecerdasan yang mengagumkan. Makanya, meskipun pemberitaannya lumayan gencar, tapi masyarakat tak melupakan kasus-kasus sebelumnya.

Publik tetap masih ingat “kebohongan pemerintahan Yudhoyono” yang dilontarkan para tokoh lintas agama, kemiskinan yang makin nyata dirasakan, dan ancaman kelangkaan pangan yang mencemaskan.

Terbukti sudah, kekuatan isu ternyata tak bisa mengalihkan apa yang sedang kita rasakan! [**]


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya