Berita

ilustrasi, penyandang cacat

Publika

Penyandang Cacat Didiskriminasi Naik Angkutan Umum?

RABU, 26 JANUARI 2011 | 02:57 WIB

RMOL. Hingga saat ini, para penyandang cacat di tempat-tempat publik terkesan masih diperlakukan diskriminatif. Terutama di angkutan umum seperti bus-bus, apalagi angkutan perkotaan (angkot). Jangan harap para pengguna kursi roda misalnya, menggunakan angkutan umum bisa seperti ini.

Bisa kita bayangkan, bagaimana misalnya pengguna kursi roda harus menunggu bus biasa, apalagi yang non AC. Untuk naiknya saja para penumpang normal mesti harus setengah berlari, atau bahkan benar-benar berlari untuk bisa naik bus. Belum lagi kondisi di dalam bus yang berdesak-desakan, ditambah lagi umumnya gaya sopir bus yang sering ugal-ugalan. Misalnya Koantas Bima 102 Ciputat-Tanah Abang, atau P20 Lebak Bulus-Senen.

 Padahal, hak menggunakan transportasi publik mestinya tak boleh membedakan seseorang apakah dia normal atau cacat. Yang terjadi sekarang, penyandang cacat seolah tak punya pilihan kecuali menggunakan taksi saja. Padahal tentunya, ongkos yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal. Artinya, tak ada transortasi umum yang murah bagi penyandang cacat? Alangkah diskriminatifnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI kepada penyandang cacat.


Meski sulit membandingkan dengan kota-kota di Barat, tapi bagaimanapun kita ya harus belajar. Di Jerman misalnya, bus selalu hanya berhenti di halte yang sudah disediakan. Pintu bus dibikin rendah dan halte dibikin tinggi. Sopir bus pun tak boleh tergesa-gesa, sehingga bila ada penyandang cacat, akan bisa masuk bus dengan tenang dan aman.

Bus Transjakarta diharapkan bisa menjadi pilihan ini. Sayangnya, armada dan rutenya masih terbatas. Yang dengan demikian, pemprov seolah juga minta kepada para para penyandang cacat untuk lebih bersabar lagi menikmati hak-hak mereka yang tidak didiskriminasi. Itu pun kalau pemprov memang punya keinginan menyamakan perlakuan kepada semua warga DKI, tak peduli normal atau cacatkah mereka.

Muhammad, Kampung Utan, Ciputat, Tangsel 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya