ilustrasi, penyandang cacat
ilustrasi, penyandang cacat
RMOL. Hingga saat ini, para penyandang cacat di tempat-tempat publik terkesan masih diperlakukan diskriminatif. Terutama di angkutan umum seperti bus-bus, apalagi angkutan perkotaan (angkot). Jangan harap para pengguna kursi roda misalnya, menggunakan angkutan umum bisa seperti ini.
Bisa kita bayangkan, bagaimana misalnya pengguna kursi roda harus menunggu bus biasa, apalagi yang non AC. Untuk naiknya saja para penumpang normal mesti harus setengah berlari, atau bahkan benar-benar berlari untuk bisa naik bus. Belum lagi kondisi di dalam bus yang berdesak-desakan, ditambah lagi umumnya gaya sopir bus yang sering ugal-ugalan. Misalnya Koantas Bima 102 Ciputat-Tanah Abang, atau P20 Lebak Bulus-Senen.
Padahal, hak menggunakan transportasi publik mestinya tak boleh membedakan seseorang apakah dia normal atau cacat. Yang terjadi sekarang, penyandang cacat seolah tak punya pilihan kecuali menggunakan taksi saja. Padahal tentunya, ongkos yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal. Artinya, tak ada transortasi umum yang murah bagi penyandang cacat? Alangkah diskriminatifnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI kepada penyandang cacat.
Populer
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Kamis, 16 April 2026 | 18:10
Senin, 13 April 2026 | 08:21
UPDATE
Rabu, 22 April 2026 | 14:13
Rabu, 22 April 2026 | 14:05
Rabu, 22 April 2026 | 14:01
Rabu, 22 April 2026 | 13:49
Rabu, 22 April 2026 | 13:48
Rabu, 22 April 2026 | 13:48
Rabu, 22 April 2026 | 13:38
Rabu, 22 April 2026 | 13:24
Rabu, 22 April 2026 | 13:10
Rabu, 22 April 2026 | 12:58