RMOL. Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat laporan tahun 2010 yang bertema “Refleksi Pemberantasan Korupsi, 2010-2011 Tahun Tanpa Makna.†Kemarin, telah diuraikan aktor yang paling konsisten melakukan korupsi pada 2010, berita kali ini tentang motif seseorang melakukan korupsi.
Dari empat periode kajian PUKAT selama 2010, motif terÂbanyak untuk melakukan korupsi ialah memperkaya diri sendiri atau orang lain. Motif tersebut menÂduduki posisi puncak selama tahun lalu. Bentuk korupsinya berÂmacam-macam, misalnya suap menyuap, penyalahgunaan weweÂnang, mark up, korupsi berjamaah, dan penyimpangan proyek.
Pada triwulan I, yakni periode Januari–Maret 2010, terdapat satu kasus yang dapat dikatakan mencuri perhatian orang banyak lantaran motif utama tokohnya untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain. Kasus tersebut menyeret nama Gayus Halomoan Partahanan Tambunan.
Menurut PUKAT, bekas pegawai golongan III A Ditjen Pajak itu punya hidup bak sihir yang mengejutkan orang banyak. Betapa tidak, saat pertama kali masuk kantor pajak, pria yang baru berumur 30 tahunan ini, masih tinggal menumpang di rumah sederhana milik orangÂtuaÂnya di pemukiman padat penduÂduk, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Abrakadabra, menurut PUÂKAT, lima tahun lalu Gayus sudah berumah mewah di Kompleks Gading Park View, Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Ini bukan sembarang rumah. Menurut pengakuannya saat diperiksa jaksa, rumah berlantai tiga di tanah seluas 436 meter persegi ini dibelinya seharga Rp 3 miliar,†ujar Hifdzil.
Namun, lanjut Hifdzil, apa laÂcur, kenikmatan tinggal di perumaÂhan bermotto “Yang Lebih Baik Bagi Kehidupan†itu cuma sekejap bisa dienyam Gayus, petugas penelaah keÂberatan dan banding pajak di Direktorat Jenderal Pajak. “Hidupnya yang sedang di puncak dunia dijungkirkan KeÂpala Badan Reserse dan KriÂminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji,†tegasÂnya.
Pada 18 Maret 2010, Susno Duadji secara terbuka menuding ada makelar perkara di tubuh kepolisian. Menurut PUKAT, saat masih menjabat Kabareskrim pada 2009, Susno menerima laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Isinya tentang rekening subur Gayus senilai Rp 25 miliar. “Gayus cuma pegawai pajak rendahan. Golongannya IIIA. Maksimal, gaji karyawan pajak di level ini ditambah tunjangan program reformasi birokrasi di Departemen Keuangan, hanya sekitar Rp 6 juta per bulan. Ini menandakan modus utama perÂkara ini ialah untuk memÂperkaya diri sendiri dan orang lain,†urainya.
Memasuki triwulan II, yakni April-Juni 2010, motif seseorang melakukan korupsi pun tidak berubah. Yang berubah hanya angkanya. Organisasi yang diÂketuai Zaenal Arifin Mochtar itu menyebutkan, pada periode ini ada 39 kasus korupsi yang bermoduskan memperkaya diri sendiri dan orang lain.
Dari 39 kasus, salah satunya ialah perkara yang menyeret nama hakim Muhtadi Asnun. Tim penyidik Independen Mabes Polri menetapkan Asnun sebagai terÂsangka kasus suap dari Gayus. Asnun kemudian didakwa meneÂrima 40 ribu dolar AS untuk memÂbebaskan Gayus dari perÂkara pencucian uang dan pengÂgelapan uang Rp 375 juta.
Selain itu, Asnun minta diÂbelikan mobil Honda Jazz keÂpada Gayus. Hal itu terungkap saat Ketua Majelis Hakim AlberÂtina Ho membacakan pesan singÂkat (SMS) yang dikirim Asnun untuk Gayus dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta SelaÂtan, Rabu (3/11). Alhasil, setelah didakwa melakukan praktik untuk memperkaya diri sendiri, bekas Ketua Pengadilan Negeri Tangerang itu akhirnya menÂdapatÂkan tiket menginap di hotel prodeo selama dua tahun.
Pada triwulan III, yakni AgusÂtus–September 2010, PUKAT menyebutkan bahwa motif memperkaya diri sendiri dan orang lain masih menjadi favorit bagi para koruptor. Hal itu ditandai dengan naiknya angka dari 39 kasus menjadi 57 kasus yang terjadi dengan mengÂgunaÂkan motif tersebut.
Menurut PUKAT, selain kasus Gayus, pada periode ini yang menarik perhatian masyarakat luas adalah ditetapkannya 26 anggota Komisi IX DPR 1999-2004 sebagai tersangka baru kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Goeltom. Kasus yang menyeret nama Nunun Nurbaeti itu juga memperkaya orang lain. “Sehingga, si penerima cek tersebut mendapatkan tambahan nominal material untuk memperÂkaya diri,†kata Hifdzil.
Memasuki akhir tahun, motif memperkaya diri sendiri atau orang lain bukan menurun, tetapi melonjak. Pada triwulan IV, yakni Oktober–Desember 2010, terjadi 70 kasus korupsi dengan mengÂgunakan modus ingin memÂperkaya diri sendiri. “Sebelum tutup tahun, ini terus meningkat,†kata Hifdzil.
Banyak Kasus Belum TuntasJhonson Panjaitan, Direktur Bantuan Hukum AAIDirektur Advokasi dan BanÂtuan Hukum Asosiasi AdÂvokat Indonesia (AAI) Jhonson PanÂjaitan menilai, hasil kajian Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) merupakan catatan kritis untuk pemerintah dan lembaga penegak hukum yang belum berhasil melakukan pemberantasan korupsi sampai ke akarnya .
“Saya sangat setuju apa yang dikatakan PUKAT bahwa 2010 ialah tahun tanpa makna dalam agenda pemberantasan korupsi. Saya tidak melihat adanya keseriusan dari lembaga peneÂgak hukum untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi,†katanya ketika dihubungi, kemarin.
Kegagalan dari lembaga penegak hukum, lanjut JhonÂson, dapat terlihat dari belum selesainya beberapa kasus korupsi yang menyeret pejabat tinggi. “Sebut saja misalnya kasus travel cek, hingga saat ini belum ditemukan siapa dalang utamanya. Kemudian pada kasus Gayus, itu juga belum dituntaskan pejabat tinggi yang terlibat,†imbuhnya.
Mengenai motif para korupÂtor dalam melakukan aksinya, Jhonson sependapat dengan PUKAT bahwa koruptor dalam praktiknya kerap menggunakan modus ingin memperkaya diri sendiri dan orang lain. “Kenapa selalu modus ini yang dipakai, karena dengan memperkaya diri sendiri dan orang lain, si koruptor tadi membuka jaringÂan yang sangat luas,†ujarnya.
Menurut Jhonson, dengan terbukanya cakupan network yang luas tadi, si pelaku koÂrupÂÂsi makin merasa aman daÂlam melakukan praktiknya. SoalÂnya, si koruptor tadi telah menÂdapatkan jaminan keÂamanÂÂan dari orang-orang di sekitarnya.
“Kalau orang suÂdah punya bekiÂng yang kuat, maka siÂapa pun yang mengÂhadÂapiÂnya, dia tiÂdak akan meraÂsa takut,†tanÂdasnya.
Jhonson menilai, motif ingÂin memperkaya diri sendiri itu muncul akibat tatanan demokÂÂrasi prosedural yang tidak sesuai dengan harapan masyaÂrakat. “Kita selalu diÂcekoki bahwa demokrasi itu masyaraÂkatnya hidup secara adil dan merata. Akan tetapi peneÂraÂpanÂÂnya beda, yang kaya maÂkin kaya sedangkan yang misÂkin kapan menjadi kaya,†tegasnya.
Wujudkanlah Impian MasyarakatDidi Irawadi Syamsudin, Anggota Komisi III DPR Anggota Komisi III DPR Didi Irawadi Syamsudin mengÂapresiasi laporan tahunan yang bertemakan “Refleksi PemÂberanÂtaÂsan Korupsi, 2010-2011 Tahun Tanpa Maknaâ€. SehingÂga, Didi mengimbau kepada lembaga penegak hukum untuk bergerak dan menunjukan kinerja yang lebih baik.
“Perang terhadap korupsi harus terus dikibarkan oleh siapa pun, tak terkecuali teman-teman akademisi dari PUKAT. Akan tetapi, apalah artinya laporan tahunan tanpa ada penanganan yang serius dari lembaga penegak hukumnya,†kata dia, kemarin.
Didi mengimbau kepada Polri, Kejaksaan Agung dan KPK menunjukkan kinerja yang paling baik pasca ketiga lembaga penegak hukum itu mendapatkan sosok pemimpin yang baru. “Di bawah pimpinan baru, sudah sepantasnya meÂreka mengoptimalkan kerjanya. Jangan menunggu lebih lama lagi,†imbuhnya.
Jika tidak, kata dia, ketiga lembaga penegak hukum itu belum berhasil mengemban amanah dan mewujudkan cita-cita masyarakat. “Mereka diÂjadiÂkan sebagai pemimpin itu untuk mewujudkan mimpi masyarakat, bukan untuk mengÂubur mimpi masyarakat. SeÂhingga, jangan pandang bulu, siapa pun yang melakukan korupsi, sikat habis,†tegasnya.
Sebagai anggota dewan, Didi merasa kinerja lembaga peneÂgak hukum dalam menuntaskan perkara korupsi belum makÂsimal. Makanya, Didi menyeruÂkan kepada semua lembaga penegak hukum untuk memÂbenahi anggotanya yang berÂmasalah dan tidak bekerja seÂcara efektif. “Banyak oknum apaÂrat yang mendapatkan masaÂlah tapi tidak diberi sanksi, ada juga yang bekerja tidak maksimal. Nah, mereka itulah yang harus diganti,†tandasnya.
Ia menambahkan, kajian PUKAT itu menandakan maÂsyaÂrakat saat ini kritis.
[RM]