Berita

adhie massardi/ist

Adhie M Massardi

Tidak Tergantung pada Bola

Oleh Adhie M. Massardi
RABU, 22 DESEMBER 2010 | 07:45 WIB

INDONESIA tiba-tiba jadi negeri sepakbola. Semua orang bicara bola. Mulai dari presiden sampai sinden tergila-gila bola. Nama-nama seperti Christian Gonzales, Irfan Bachdin, Oktavianus Maniani, atau Bambang pamungkas, jadi begitu enteng meluncur dari mulut mereka. Tim nasionalnya bagaikan kesebelasan raksasa yang siap melumat tim negara manapun.

Nyanyian “Garuda di dadaku..,” yang diadaptasi dari lagu daerah Papua (Apuse), seketika jadi lagu kebangsaan. Senantiasa bergema di stadion, mengiringi kemenangan demi kemenangan timnas Indonesia atas lawan-lawannya. Malaysia, Laos, Thailand, Filipina, dilibas nyaris tanpa balas.

Maka dari lapangan hijau itu, atmosfir “merah putih” membayang di langit khatulistiwa. Merangsang jutaan pasang mata menengadah. Bangga. Penuh harap. Membuat semua persoalan bangsa seperti menguap. Keterpurukan di hampir semua lini akibat lemahnya visi dan kepemimpinan nasional tersingkir dari hati yang luka.

Sayang, kompetisi antar-negara di Asia Tenggara yang diselenggarakan AFF (Asean Football Federation) itu, hanya sesaat. Pada Rabu, 29 Desember sudah final. Sehingga kalau toh akhirnya Indonesia juara, euforia kemenangan umurnya paling lama dua pekan.

Setelah itu, rakyat Indonesia bakal kembali bergelimang persoalan kehidupan yang seragam. Daya beli menurun. Kebutuhan hidup melonjak. Mereka lalu kembali mempersoalkan kenapa persoalan-persoalan yang semula tidak menjadi persoalan sekarang tumbuh jadi persoalan yang tak terselesaikan? Kenapa kita sering terperosok ke lubang yang sama berkali-kali? Kenapa para pemimpin politik formal di negeri ini menjadi seperti keledai?

Bila sudah begini, kesadaran rakyat niscaya akan kembali seperti sediakala. Sehingga kita mampu melihat ASEAN menjadi hanya sepenggal kawasan di pojok Asia. Maka ajang sepakbola Piala AFF Suzuki 2010 pun sesungguhnya bukan Piala Asia yang melibatkan seluruh negara di benua Asia. Sudah tentu dibandingkan dengan Piala Dunia, AFF Suzuki Cup ini hanya sepersekiannya… Ibarat kejuaran tingkat provinsi.

Kalau kesadaran sudah kembali normal, tentu bakal merasa sangat wajar bila Timnas Merah Putih sanggup melibas Filipina, Laos, bahkan Malaysia. Sebab dilihat dari sudut mana pun, Indonesia memang lebih unggul. Bahkan Presiden Yudhoyono merupakan satu-satunya pemimpin ASEAN yang punya album lagu!

Lalu kenapa kemarin kita begitu bersukacita secara sangat berlebihan melihat Timnas sanggup melibas Filipina, bahkan tatkala berhasil melumat negeri sekecil Laos? Kenapa pula pemain produk naturalisasi seperti Gonzales dan Irfan Bachdim yang jadi topik di hampir seluruh warung kopi di negeri ini?

Pertanyaan yang banyak ini sebenarnya memang sulit dijawab. Kalau toh ada yang bisa menjawabnya, setiap orang pasti berbeda. Sehingga perlu ahli statistik untuk menyimpulkannya.

Tapi semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu pasti tidak penting bagi kita. Karena jawaban yang benar dan penting dicatat atas semua itu sudah beredar di HP, twitter, facebook dan warung-warung pinggir jalan:

“Kalau dua pemain bola hasil naturalisasi saja bisa mengangkat prestasi persepakbolaan nasional, bagaimana kalau presiden juga orang hasil naturalisasi?”

Pernyataan yang berkembang di masyarakat ini, bukan hanya membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya ingin berprestasi di dunia sepakbola belaka, tapi juga di sektor lain. Cuma dengan model kepemimpinan seperti sekarang, apa mungkin?

Makanya, kita mimpi punya pemimpin kualitas impor. Hasil naturalisasi.

Tentu saja ini pandangan yang sesat. Sebab sesungguhnya, banyak orang di Indonesia memiliki kualitas kepemimpinan yang baik. Cuma orang-orang seperti itu tidak akan sanggup berkompetisi model di negeri ini sekarang, karena mereka pasti tidak tega merampok uang rakyat untuk membeli parpol dan suara di bursa pemilu. Makanya… [**]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya