Berita

kwik kian gie/ist

SAHAM KRAKATAU STEEL

Kwik Kian Gie Ajukan Tujuh Pertanyaan untuk SBY

SELASA, 09 NOVEMBER 2010 | 22:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Kwik Kian Gie mengingatkan SBY pada grand design industri pertahanan di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Dalam grand design itu, PT Krakatau Steel turut memegang peranan penting. SBY yang ketika itu adalah Menko Polkam juga terlibat dan menyapakatinya.

“Ada aspek lain yang lebih mendasar mengapa swastanisasi KS harus ditunda,” ujar Kwik Kian Gie di Resto Sari Kuring Komplek SCBD Jalan Jendral Sudirman, Jakarta (Selasa, 9/11).

Di era Megawati, pemerintah telah mengambil keputusan membangun industri pertahanan lewat kerjasama dengan pemerintah China.

Saat itu, grand design industri pertahanan yang akan dibangun adalah dengan menggunakan empat BUMN industri strategis sebagai pilar, yakni PT Krakatau Steel, PT PAL, PT Dirgantara dan PT Pindad.

Perancang dan perunding kesepakatan tersebut, jelas Kwik, adalah dirinya sendiri sebagai kepala Bappenas, dilaksanakan oleh BPPT dan keputusannya disetujui oleh Menhan, Panglima TNI dan Menkopolkam.

Wujud dari kesepakatan kerjasama itu pemerintah China menghibahkan 7 juta dolar AS untuk membiayai tim ahli China, yang akan memberikan nasihat dalam bentuk konsep bagaimana pemerintah Indonesia membangun sektor industri pertahanan yang baik dengan empat BUMN tadi.

Prosesnya, katanya lagi, waktu itu sudah berjalan sampai pada tahap melakukan finishing touch dalam menyelesaikan laporan.

“Karena ada persetujuan itu, maka swastanisasi KS perlu ditunda sampai pemerintah memberikan kejelasan tentang peran KS sebagai komponen penting dari industri pertahanan yang secara resmi sudah diputuskan oleh pemerintah Megawati,” pintanya.

Terkait dengan kesepakatan Indonesia-China ini juga, karenanya bagi Kwik ada banyak pertanyaan penting yang harus dijawab pemerintah saat ini sebelum swastanisasi KS dilangsungkan.

Pertama, apakah pemerintahan SBY telah membatalkan keputusan pemerintah Megawati yang ingin menjadikan KS sebagai salah satu pilar industri pertahanan sementara ketika itu SBY juga ikut menyetujui kesepakatan tersebut karena dia Menkopolkamnya.

Kedua, bila tidak benar, apakah pemerintah saat ini sudah mempertimbangkan segi keamanan bila KS diswastakan. Apakah KS akan tetap menjadi komponen penting dari industri pertahanan.

Ketiga, apakah swastanisasi KS melalui penguasaan modal oleh investor publik, padahal juga bisa jatuh ke tangan investor asing, secara implisit mengartikan keseluruhan industri pertahanan kita tidak jadi dibangun.

“Keempat, ataukah industri pertahanan jadi dibangun tetapi KS dianggap tidak penting lagi. Jika demikian, pertanyaannya kemudian, kebutuhan baja untuk membangun infrastruktur kita akan dipasok dari mana?,” tambahnya.

Kelima, masih menurutnya, apakah ada perintah asing Barat kepada presiden SBY supaya membatalkan pembangunan industri pertahanan yang dibantu oleh China terutama yang negara Asia.

Keenam, bukankah ini berarti SBY memotong kelanjutan dari proses politik penting yang presiden SBY sendiri terlibat. Adakah pertimbangan geopolitik baru yang perlu diketahui oleh rakyat sehingga bergeser dari China.

Terakhir, ketujuh, bukankah swastanisasi KS adalah pencuatan dari sebuah pelecehan yang sangat tidak etis terhadap keputusan Presiden Megawati, di mana waktu itu, SBY adalah pembantunya. [guh]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Zero ODOL Sulit Diterapkan, DPR Ingatkan Risiko Inflasi di Sektor Logistik

Jumat, 10 April 2026 | 12:14

Catut Nama Pimpinan KPK, Komplotan Pegawai Gadungan Peras Anggota DPR

Jumat, 10 April 2026 | 11:51

Sentimen Perang Picu Spekulasi Logistik: Ancaman Baru bagi Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 April 2026 | 11:39

Komplotan Pegawai KPK Gadungan Dibongkar, 17.400 Dolar AS Disita dari Aksi Pemerasan

Jumat, 10 April 2026 | 11:28

DPR: Sejumlah Jalan Tol Cacat Sejak Awal Konstruksi

Jumat, 10 April 2026 | 11:16

Emas Antam Makin Mahal, Cek Daftarnya Hari Ini

Jumat, 10 April 2026 | 11:05

KPK-Polda Metro Tangkap 4 Pegawai Gadungan di Jakarta Barat

Jumat, 10 April 2026 | 11:03

Ini Kronologi Kasus Petral yang Menjerat Riza Chalid dan Enam Tersangka Lainnya

Jumat, 10 April 2026 | 10:53

Bulan Ini Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 Titik PSEL

Jumat, 10 April 2026 | 10:49

KPK Terapkan Skema Kerja BDR-BDK untuk Dukung Efisiensi Energi

Jumat, 10 April 2026 | 10:34

Selengkapnya