Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Yanto Santosa mengajak Greenpeace melakukan debat terbuka di depan publik untuk mengungkapkan kebenaran soal tudingan NGO/LSM tersebut kepada Indonesia, baik soal deforestasi, pembunuhan orangutan, Amdal, maupun soal lahan gambut.
“Saudara Bustar (Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara) meminta agar saya mau menerima dia. Lalu saya terima dia di ruang Pasca Sarjana IPB, Kamis (4/10). Kedatangannya untuk mengklarifikasi soal pernyataan saya di media massa. Saya katakan, yang ditulis wartawan itu berdasarkan data yang saya berikan. Kalau memang mau beradu argumentasi, saya ajak dia debat terbuka di depan publik. Tapi sampai saat ini dia belum mau menerima ajakan saya,†ungkap Dr Yanto kepada wartawan di Jakarta, Senin (8/11).
Menurut Yanto, seluruh data yang dimilikinya berdasarkan hasil penelitian, sehingga pihaknya berani mempertanggungjawabkannya. “Kalau memang Greenpeace punya data yang berbeda, mari kita perjelas perbedaan itu. Ternyata Bustar mengaku bahwa mereka memang tidak melakukan penelitian. Adapun data yang mereka miliki itu berdasarkan hasil investigasi,†ungkap Yanto.
Padahal, lanjut Yanto, adanya pertemuan antara dirinya sebagai peneliti dengan Greenpeace secara terbuka sangatlah diperlukan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat bisa menilai, pihak mana yang bisa dipegang keakuratan datanya. “Saya berharap, Unilever menjadi fasilitator pertemuan ini. Sebab, Unilever sebagai pihak yang terpengaruh oleh kampanye Greenpeace. Karena itulah, Unilever pun harus ikut bertanggung jawab memberikan penjelasan kepada publik melalui penyelenggaraan debat terbuka,†kata Yanto.
Dalam debat terbuka itu, lanjut Yanto, diharapkan akan ada titik temu, dimana letak perbedaan dan bagaimana menyamakannya. Sebab, hasil investigasi itu baru bisa dikatakan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya jika sudah ada hasil penelitian. “Seperti pernyataan Said Didu (Ketua Ikatan Alumni IPB), bahwa setiap temuan itu harus memiliki indikator yang sama. Kalau indikatornya berbeda, maka tidak akan menemukan titik kesamaan. Dan, semua hasil penelitian itu harus dibantah juga dengan hasil penelitian lagi,†papar Yanto.
Ditanya soal tudingan Greenpeace yang menyatakan dua peneliti IPB sebagai antek-antek HPH, Yanto mengatakan dirinya tidak mau meladeni hal-hal yang bersifat pribadi. “Kapasitas saya kan sebagai peneliti dan mengungkapkan hasil penelitian saya. Kalau dia bilang saya antek-antek HPH, terserah dia. Orang kan bisa menilai, mana yang benar dan mana yang salah. Yang terpenting, saya bisa menjaga independensi saya sebagai ilmuwan,†jelasnya.
Yanto juga menilai, kedatangan Bustar ke kampus IPB untuk menemuinya merupakan keresahan dan merasa sudah sangat tersudutkan ketika media mengungkapkan hasil penelitiannya. “Saya katakan, LSM itu memang dibutuhkan sebagai penyeimbang. Tapi suara-suara LSM yang dilontarkan ke publik itu harus didukung oleh data-data hasil penelitian. Jangan hanya data hasil investigasi saja,†tandas Yanto.
Sementara itu pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menilai penolakan Greenpeace terhadap ajakan debat terbuka dari DR Yanto mengindikasikan mulai terbukanya kedok dari NGO tersebut. “Sejak awal saya katakan, Greenpeace harus diaudit oleh pemerintah, karena memiliki standar ganda, yakni selain menyuarakan lingkungan juga membawa kepentingan lain,†ujar Boni.
Jadi, dengan tidak bersedianya Greenpeace berbicara bersama para peneliti dari IPB di depan publik, semakin memperjelas bahwa mereka memang membawa misi yang jauh lebih besar dibanding hanya menyuarakan lingkungan.
Padahal, lanjut Boni, penelitian kedua guru besar IPB itu jelas memiliki metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sedangkan investigasi, unsur obyektivitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak bisa diterima secara luas oleh masyarakat. Sebab, investigasi itu tergantung dari investigatornya, kemana mau diarahkan. “Kalau penelitian, tidak bisa diarahkan, karena metodologinya jelas dan jauh lebih obyektif. Karena itu, saya lebih percaya hasil penelitian daripada investigasi,†tandasnya. [guh]