Berita

Said Didu: Greenpeace Jangan Jelek-jelekkan IPB

KAMIS, 04 NOVEMBER 2010 | 17:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Ketua Umum Ikatan Alumni IPB, Said Didu, memperingatkan LSM asing Greenpeace agar tidak menjelek-jelekkan dua peneliti dari IPB, Dr Yanto Santosa dan Prof Bambang Hiro Saharjo.

Ia juga meminta Greenpeace mengikuti peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia.

“Kalau Greenpeace mengatakan kedua peneliti tersebut antek-antek dan jubir perusahaan, berarti Greenpeace tidak menghormati etika ilmiah,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/11).

Sebagai ilmuwan, kedua guru besar IPB itu diyakini memiliki dasar yang kuat untuk mengeluarkan pernyataan terkait definisi deforestasi. Mereka tidak mungkin mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai peneliti yang selalu mengedepankan prinsip keilmuan berbasis ilmiah.

“Saya yakin betul integritas kedua peneliti itu,’’ ujarnya.

Dalam sebuah penelitian, sering terjadi perbedaan metodologi yang digunakan pada objek yang sama.

“Tentu hasilnya juga akan berbeda. Padahal seharusnya indikator-indikator yang dipakai harus sama,” tandas dia. Karena berada di Indonesia, tentu harus tunduk pada perundangan negara kita.

“Sebagai Ketua Umum Alumni IPB, saya mendesak agar seluruh kegiatan penelitian apapun yang menyangkut Indonesia, harus mengikuti peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Tidak boleh menggunakan indikator-indikator luar negeri. Peneliti asing itu kan masuk ke negara kita harus ada izin. Jadi, tidak boleh menggunakan indikator-indikator yang dipakai di luar di negeri lalu diterapkan secara umum di negara kita. Penelitian itu harus dibantah dengan penelitian. Tidak boleh saling mengejek,” kata Sekretaris Menteri Negara BUMN ini menanggapi pernyataan Juru Kampanye Greenpeace, Bustar Maitar.

Sebelumnya, kepada media, Bustar Maitar, mengatakan mencurigai kedua profesor IPB, Dr Yanto dan Prof Bambang sebagai antek-antek dari perusahaan pemilik HPH.

“Tanya mereka, mereka itu sebenarnya profesor apa jubir perusahaan HPH? Saya juga orang kehutanan kok, kita punya foto-fotonya lengkap soal kerusakan hutan. Supaya jelas Pak Yanto dan Pak Bambang mana hutan dan mana alang-alang itu kalau bicara soal pengertian deforestasi,” kata Bustar, dua hari lalu (Selasa, 2/11/). [guh]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya