Berita

Dunia

KRISIS POLISARIO

Mustapha Akhirnya Ditangkap

RABU, 22 SEPTEMBER 2010 | 10:35 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Mustapha akhirnya ditangkap oleh kawan-kawannya sesama anggota Polisario yang tidak bisa menerima perubahan sikap Kepala Polisi Polisario itu mengenai konflik antara kelompok separatis tersebut dengan Kerajaan Maroko.

Pemilik nama lengkap Mustapha Salma Ould Sidi Mouloud was ditangkap hari Selasa malam waktu setempat (21/9) oleh milisi Polisario begitu tiba di pos perbatasan antara Mauritania dan Aljazair.

Bulan Agustus lalu Mustapha mengunjungi ayahnya di Smara, kota di Provinsi Sahara, Maroko. Dalam kunjungan itu Mustapha melihat perubahan besar yang terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir di Maroko. Dalam sejumlah jumpa pers Mustapha mengatakan bahwa orang-orang Sahara yang berada kamp Tindouf di wilayah Aljazair lah yang paling berhak membicarakan nasib Sahara dengan pihak Maroko.

Polisario, sebut Mustapha, tidak dapat mewakili orang-orang Sahara yang sejak konflik pada era 1970an berada di Tindouf, Aljazair. Banyak di kalangan pimpinan Polisario bukan orang Sahara. Melainkan orang yang lahir dan besar di wilayah utara Kerajaan Maroko, atau orang yang berasal dari negara lain di kawasan itu.

Rakyat Merdeka Online sempat menghubungi Mustapha akhir pekan lalu. Dalam pembicaraan via telepon itu Mustapha menyampaikan kekecewaannya pada Polsario yang tidak dapat menerima sikapnya. Dia juga mengatakan telah menerima kabar bahwa petinggi Polisario akan menangkapnya.

Mustapha bukanlah satu-satunya pejabat Polisario yang berubah pikiran mengenai arah perjuangan organisasi itu. Sebelum Mustapha, sejumlah petinggi Polisario juga telah memutuskan untuk kembali Maroko bersama arus balik yang begitu tinggi dalam tahun ini. Belum lagi dukungan dunia internasional untuk kelompok ini mulai melemah. Dalam beberapa bulan terakhir sejumlah negara telah menarik dukungan mereka. Informasi lain dari sejumlah NGO internasional menyebutkan bahwa Polisario mulai main mata dengan jaringan teroris di kawasan itu.

Ketika mengunjungi Maroko bulan Juni lalu Rakyat Merdeka Online juga sempat bertemu dengan salah seorang pendiri Polisario, Ahmadou Ould Souilem, yang sudah setahun lebih meninggalkan Tindouf. Menurut Ahmadou, perjuangan Polisario telah melenceng.

Baik Ahmadou dan Mustapha juga mengatakan bahwa Polisario dan Aljazair telah menipu komunitas internasional. Bukan saja menyelewengkan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan sejumlah organisasi internasional untuk orang Sahara, petinggi-petinggi Polisario juga terlibat dalam pelanggaran HAM.

Tetapi Mustapha berkeras kembali ke Tindouf untuk menemui istri dan anak-anaknya serta saudara-saudaranya di sana. Dalam pembicaraan dengan Rakyat Merdeka Online pekan lalu, Mustapha mengatakan, alasan lain mengapa dirinya memilik kembali ke Tindouf adalah untuk meyakinkan orang-orang Sahara bahwa hanya orang-orang Sahara di Tindouf yang dapat membicarakan masa depan Sahara. Mustapha juga mengatakan bahwa proposal otonomi khusus yang disampaikan Kerajaan Maroko merupakan jalan keluar yang paling memungkinkan dan menguntungkan orang-orang Sahara.

Menurut informasi yang diperoleh dari Maghreb Arab Press (MAP), Mustapha ditangkap oleh milisi Polisario yang mengendarai dua mobil saat ia berada di Mhiriz, di dekat perbatasan Mauritania dan Aljazair dalam perjalanan menuju Tindouf.

Sebelum penangkapan ini, berbagai organisai HAM termasuk di Eropa meminta agar PBB ikut melindungi keselamatan Mustapha. Sepucuk surat juga sudah dikirimkan kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon bulan lalu. [guh]


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya