Berita

Adhie M Massardi

Menghentikan Politik Pecah Belah

SELASA, 21 SEPTEMBER 2010 | 23:56 WIB

SEJAK telepon selular (HP) menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, hari-hari besar keagamaan di negeri kita menjadi lebih semarak. Lewat media yang disediakan dalam telepon genggam itu, seperti pesan singkat (SMS) maupun kiriman gambar (MMS), ucapan selamat hilir mudik. Dari satu HP ke lain HP.

Variasi ucapannya juga semakin kaya. Ada yang lucu. Ada yang menyentuh hati. Tapi lebih banyak yang standar-standar saja. Sebab inti dari ucapan seperti “Selamat Natal dan Tahun Baru”, atau “Gong Xi Fa Chai”, juga “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” yang disambung dengan “Selamat Lebaran, Maaf Lahir dan Batin” yang dikirmkan via HP itu, untuk mempererat tali silaturahmi. Semacam menjaga komunikasi dengan cara murah meriah.

Kehadiran BlackBerry (BB) yang kini menjadi life style masyarakat di perkotaan, semakin memperkaya media silaturahmi personal. Itulah sebabnya Ramadhan dan Lebaran 1 Syawal 1431 Hijriyah, yang aroma dan atmosfirnya masih menaungi langit Nusantara sampai hari ini, menjadi panggung paling heboh bagi bangsa Indonesia dalam mendemonstrasikan nilai-nilai pluralisme yang dipatenkan pada sehelai pita dalam genggaman Garuda Pancasila: Bhinneka Tungal Ika.


Makanya saya tidak heran bila di HP atau di BB Anda juga penuh dengan ucapan “Selamat Lebaran, Maaf Lahir dan Batin” dalam berbagai versi kiriman saudara dan teman kita. Bukan cuma dari yang Muslim, tapi juga Hindu, Budha, Kristen, Khonghucu serta penganut kepercayaan lainnya.

Itulah sebabnya ketika pada Lebaran hari kedua (11/9) itu dari Bekasi tersebar berita terjadi “konflik antar-umat beragama”, dan seorang Pendeta HKBP tertusuk senjata tajam, mayoritas bangsa Indonesia yang berpikir langsung mengucap: “Ada yang mendesain tragedi ini. Ada yang ingin mengalihkan isu penting di negeri ini dengan isu konflik antar-umat beragama yang ‘seksi’ sebagai berita…!”

Tidak terlalu sulit untuk melihat “tangan-tangan yang memainkan anak-anak wayang” itu, yang dibenturkan dan dikemas dalam “konflik antar-umat beragama”.

Indikatornya, selain fakta harmoni kehidupan antar-umat bergama dan antar-etnik masih ada di HP dan BB kita, sejarah juga menguatkan hal itu. Bangsa Indonesia memang tidak memiliki akar sejarah konflik antar-etnik, apalagi antar-umat bergama.

Mpu Tantular, pujangga sohor era Majapahit itu, pada abad 14 sudah memahat “Bhinneka Tunggal Ika” dalam kakawin Sutasoma, dalam hati sanubari bangsa Indonesia. Itulah benteng sangat kuat untuk menahan benturan yang dipicu lewat etnik maupun agama, juga ideologi.

Makanya, meskipun Belanda pernah menggunakan politik divede et impera, tapi tidak meningalkan jejak yang pasti. Buktinya para founding father kita tak mengalami kesulitan berarti ketika pada 28 Oktober 1928 menggelorakan semangat “satu nusa, bangsa, satu bahasa” dalam Sumpah Pemuda yang terkenal itu.

Jadi konflik yang terjadi di Bekasi pada Lebaran hari kedua itu, juga konflik sejenis yang terjadi di tempat-tempat lain, yang sepanjang era pemerintahan Yudhoyono menjadi laten, harus dilihat sebagai “peristiwa kriminal yang dikemas dalam bentuk (seolah) konflik antar-umat beragama”.

Untuk menghentikan kejadian serupa, langkah pertama adalah, kita harus keluar dari jebakan “agama”. Kedua, mendorong instansi penegak hukum menjalankan tugasnya dengan benar. Pimpinan umat dalam konteks ini hanya sebagai “perban” untuk membalut luka-luka yang ditinggalkan.

Bila aparat penegak hukum ragu-ragu menjalankan tugasnya mengatasi masalah seperti ini, maka persoalan ada di pemerintahan. Kalau sudah begini, tugas parlemen dan kekuatan civil society untuk mengoreksinya secara total dan cepat.

Kelambanan mengatasi masalah yang sudah menjadi laten seperti ini, hanya akan memperparah keadaan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya