Berita

GUNUNG SINABUNG

Ketika Air Lau Kawar Bisa Dipakai untuk Merebus Telur

MINGGU, 29 AGUSTUS 2010 | 17:20 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Sejak seminggu yang lalu suhu air Lau Kawar terbilang cukup tinggi. Sebegitu panasnya air di danau yang terletak di utara kaki Gunung Sinabung ini sampai-sampai masyarakat sambil bercanda mengatakan Lau Kawar bisa dipakai untuk merebus telur.

Walau tak biasa namun tak ada yang menganggap perubahan suhu air Lau Kawar itu sebagai keanehan yang penting untuk diteliti.

“Suhu panas itu terjadi sebelum letusan yang mengeluarkan abu dan belerang. Ternyata, itu adalah indikasi dari aktivitas gunung,” ujar Sangap Surbakti, Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana kepada Rakyat Merdeka Online yang menghubunginya.

Sangap pun baru mengetahui cerita tentang kenaikan suhu air Lau Kawar itu setelah Gunung Sinabung meletus beberapa menit lewat tengah malam Minggu dinihari tadi (29/8). Seandainya fenomena itu diketahui beberapa hari sebelumnya, mungkin respon terhadap bencana alam ini bisa dilakukan lebih awal, katanya.

“Untunglah, masih belum terlambat,” ujarnya lagi.

Fenomena yang diceritakan Sangap ini kelihatannya dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena letusan Gunung Sinabung.

Tadinya, saat pertama kali Gunung Sinabung mengeluarkan asap pada Jumat petang (27/8) Pusat Vulkanis dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang merupakan salah satu unit di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa hal itu disebabkan intensitas hujan yang tinggi yang diperkirakan menaikkan tekanan uap di dalam kawah dan memicu letusan freatik dimana uap air mendesak ke luar diikuti abu vulkanik.

Kira-kira sama seperti bara terpercik air.

Penjelasan dari Kepala PVMBG Surono inilah yang dipakai Istana untuk menjelaskan fenomena asap yang keluar dari kepundan gunung berketinggian 2.460 dpl pada Jumat sore itu. Saat itu, PVMBG pun menjelaskan bahwa selama ini Gunung Sinabung dikelompokkan ke dalam tipe B, yakni gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti mengeluarkan asap belerang (solfatara).

Belakangan, setelah lava dan pijar api meleleh keluar dan membakar hutan di sekitar Gunung Sinabung, PVBMG mengetahui bahwa perkiraan awal mereka salah. Saat itu juga, kelas tetangga Gunung Sibayak itu dinaikkan, menjadi tipe A: gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600. Status di sekitar kawasan gunung pun diubah dari oranye yang berarti siaga, menjadi merah yang berarti awas.

Status awas ini ditandai dengan letusan gunung berapi yang menciptakan keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana, letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap, dan letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam sejak abu dan asap dilepaskan ke udara.

Begitu mengetahui keadaan mendekati titik genting, tim PVBMG menjelang tengah malam tadi berangkat mendekati kaki gunung di Desa Sukanalu untuk memasang alat pencatat getaran gempa. Dalam perjalanan menuju Sukanalu, letusan pertama terjadi. Tim sempat tertahan sebelum akhirnya berhasil memasang alat itu.

“Kejadian besoknya membuat kita terpukul. Pak Surono mengakui salah prediksi,” ujar Sangap lagi.

Sekali lagi, untunglah, sampai sejauh ini semuanya dapat dikatakan masih belum terlambat. [guh]


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Selesaikan Bentrok di Matraman dengan Kepala Dingin

Senin, 27 Juli 2026 | 20:25

Metode Backfill Tailing jadi Andalan Tambang Bawah Tanah Lebih Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:24

Putusan Majelis Syura PKS: Dukung Kebijakan Ekonomi Prabowo Hingga Soroti LGBTQ

Senin, 27 Juli 2026 | 20:23

Pramono Minta Warga Kepala Dingin Sikapi Bentrokan di Matraman

Senin, 27 Juli 2026 | 20:16

Sebagai Wakil Rakyat, DPR Punya Tiga Tugas yang Wajib Dijalankan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:14

KSSK Bakal Libatkan Danantara dalam Setiap Pengambilan Keputusan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:02

Kuasa Hukum Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masih Abu-Abu

Senin, 27 Juli 2026 | 19:59

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Komunitas Lintas Iman Satukan Tekad Hadapi Krisis Iklim

Senin, 27 Juli 2026 | 19:49

Kompetisi Debat Pemilu ke-VI Bawaslu Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Senin, 27 Juli 2026 | 19:48

Selengkapnya