Adopsi AI Asia Tenggara Tembus 243 Juta Orang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 22 Oktober 2026, 13:36 WIB
Adopsi AI Asia Tenggara Tembus 243 Juta Orang
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Adopsi kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara melesat hingga menjangkau 243 juta orang dalam waktu kurang dari tiga tahun. Meski begitu, peluang bisnis dari teknologi ini ternyata tidak hanya bergantung pada konsumen yang membayar biaya langganan.

Laporan tahunan e-Conomy SEA yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company pada Rabu, 21 Oktober 2026, mencatat, pengguna AI generatif di Asia Tenggara setara dengan 58 persen populasi usia kerja. Adopsinya bahkan berlangsung empat kali lebih cepat dibandingkan penggunaan internet seluler pada masa awal perkembangannya.

Namun, baru sekitar 1-2 persen penduduk di kawasan ini yang membayar langganan AI untuk penggunaan pribadi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya penggunaan AI belum tentu diikuti dengan kesediaan konsumen membayar langsung untuk layanan tersebut.

Florian Hoppe, mitra Bain & Company, mengatakan perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari AI melalui berbagai cara, mulai dari meningkatkan penjualan di platform belanja daring hingga membuat iklan digital lebih efektif.

“Monetisasi AI tidak bergantung pada pembayaran dari kita,” kata Hoppe kepada CNBC International.

Menurut dia, perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan peluang konsumen menyelesaikan transaksi dan menangani pertanyaan pelanggan yang bersifat rutin. Dengan begitu, karyawan dapat mengalihkan perhatian ke pekerjaan lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Konsumen juga bisa menikmati manfaat AI secara tidak langsung melalui produk dan layanan yang dikembangkan dengan teknologi tersebut.

Peluang ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara yang diperkirakan meningkat 17 persen menjadi 368 miliar Dolar AS pada 2026, berdasarkan nilai barang dan jasa yang diperdagangkan secara bruto (gross merchandise value/GMV). Nilainya diproyeksikan melampaui 1 triliun Dolar AS pada 2035.

Laporan tersebut juga menunjukkan semakin besarnya kepercayaan konsumen terhadap AI. Sebanyak 75 persen pengguna menyatakan bersedia membiarkan agen AI mencari harga terbaik dan menyelesaikan pembelian atas nama mereka. Sementara itu, 62 persen responden mengaku lebih percaya terhadap perangkat AI dibandingkan setahun sebelumnya.

Bagi pelaku usaha, manfaatnya mulai terlihat dalam angka penjualan dan efisiensi operasional. Sekitar 69 persen pembeli menggunakan AI untuk membandingkan produk dengan pertimbangan kompleks, seperti perangkat elektronik. Sejumlah studi kasus awal juga menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dapat meningkatkan rasio konversi penjualan sebesar 10 persen per tahun dan mendongkrak rata-rata nilai belanja per pesanan hingga 75 persen.

Salah satu contohnya adalah Shopee, yang disebut telah menggunakan chatbot AI untuk menangani sekitar 80 persen pertanyaan pelanggan. Pemanfaatan teknologi tersebut membantu platform e-commerce itu memangkas biaya untuk setiap interaksi pelanggan sebesar 30 persen per tahun.

Meski adopsi AI di Asia Tenggara tumbuh pesat, penggunaannya per orang masih sekitar 10 persen dari tingkat penggunaan di Amerika Serikat. Bagi perusahaan, kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa peluang pengembangan AI di kawasan tersebut masih terbuka lebar, terutama melalui peningkatan efisiensi, penjualan, periklanan, perjalanan daring, serta layanan transportasi dan pengiriman makanan. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA