Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan, peningkatan cadangan devisa terutama ditopang penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
“Perkembangan posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia,” kata Denny dalam keterangannya, Jumat, 6 November 2026.
Denny menjelaskan, kebijakan stabilisasi nilai tukar diperlukan untuk merespons ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi dan berdampak terhadap pergerakan Rupiah.
Meski demikian, posisi cadangan devisa tersebut tetap memadai untuk mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Cadangan devisa itu mampu membiayai sekitar 5,3 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tuturnya.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga. Hal itu ditopang posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: