Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Jumat, 06 November 2026, 11:30 WIB
Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang
Abdul Mutalib, petani kakao Sabang berusia 25 tahun. (Foto: RMOL)
Kecil Besar
rmol news logo Upaya meningkatkan kesejahteraan petani kakao di Kota Sabang, Aceh, dilakukan melalui pengembangan usaha pengolahan cokelat lokal bernama Cokbang atau Coklat Sabang.

Penyuluh Pertanian, Muzakir mengatakan, inisiatif tersebut berawal dari persoalan harga jual kakao yang kerap berfluktuasi dan relatif rendah. Petani selama ini hanya menjual hasil panen kepada pengepul dengan harga berkisar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya membangun Koperasi Kakao Jaya Mandiri pada 2023 sekaligus mengembangkan proses pengolahan dan fermentasi kakao.

"Kami ingin membangun kakao Sabang yang bisa langsung diolah dan dikonsumsi tanpa harus melalui perantara pengepul," kata Muzakir, Jumat, 6 November 2026.


Melalui Cokbang, harga kakao yang diterima petani kini meningkat menjadi sekitar Rp70 ribu per kilogram. Sementara kakao yang telah melalui proses fermentasi dapat mencapai Rp120 ribu per kilogram.

Menurut Muzakir, pengembangan usaha tersebut juga didorong oleh potensi kakao Sabang yang memiliki kadar lemak tinggi sehingga cocok diolah menjadi berbagai produk cokelat.

"Kami tergerak untuk mengembangkan usaha tani mereka agar petani mendapatkan nilai tambah dari hasil panennya," ujarnya.

Aktivitas panen kakao berlangsung secara berkala setiap 10 hari. Hasil panen tersebut kemudian menjadi bahan baku pengolahan cokelat lokal.

Lebih jauh, pengembangan Cokbang diarahkan untuk menghubungkan tiga sektor sekaligus, yakni pertanian, industri pengolahan, dan pariwisata.

Kehadiran Cokbang tidak hanya menjadi ruang peningkatan nilai ekonomi kakao, tetapi juga daya tarik wisata bagi pengunjung yang ingin melihat potensi produk lokal Sabang. Sejumlah wisatawan hingga civitas akademika universitas juga datang untuk melakukan penelitian.

Menariknya, pengembangan kakao Sabang turut melibatkan generasi muda. Salah satunya Abdul Mutalib, petani kakao berusia 25 tahun.

Ia mengaku memilih terjun ke dunia pertanian karena melihat potensi ekonomi yang besar dari komoditas kakao.

"Kenapa saya mau jadi petani karena saya melihat ada potensi yang besar," kata Abdul Mutalib.

Keterlibatan anak muda tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pertanian kakao yang lebih produktif sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA