Mengutip data Bloomberg, Rupiah melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp18.111 per Dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda salah satunya dipicu kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Harga minyak Brent tercatat melonjak hampir 4 persen setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global, di tengah ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent ditutup naik 3,88 persen menjadi 98,29 Dolar AS per barel pada perdagangan Kamis 5 November 2026 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,72 persen ke level 90,52 Dolar AS per barel.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak dan pelemahan Rupiah menjadi tekanan ganda bagi APBN. Pasalnya, asumsi harga minyak dalam APBN masih dipatok sebesar 70 Dolar AS per barel, sedangkan nilai tukar diasumsikan Rp16.500 per Dolar AS.
Dengan harga minyak yang kini mendekati 100 Dolar AS per barel dan Rupiah di kisaran Rp18.100 per Dolar AS, pemerintah harus menanggung selisih yang semakin besar dari kedua asumsi tersebut.
"Permasalahan di sini adalah masalah energi kita. Harga minyak ini walaupun sudah di bawah 100 Dolar AS, tetapi masih menjadi beban berat bagi pemerintah karena di APBN dipatok 70 Dolar AS per barel," ujar Ibrahim kepada RMOL.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 Dolar AS per barel di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban anggaran.
“Pemerintah harus menalangi Rupiahnya dari 16.500 sekarang ke Rp18.100. Berarti apa? Berarti pemerintah pun juga harus menalangi selisihnya karena apa selisih Rupiah ya Rp100 itu sama dengan Rp800 miliar defisit,” tegasnya.
Di sisi lain, pelemahan Rupiah juga memperbesar kebutuhan belanja pemerintah untuk memenuhi kewajiban dalam mata uang asing.
Tekanan fiskal semakin besar seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang disebut Ibrahim telah mencapai 7,7 persen, jauh di atas asumsi APBN sebesar 5,9 persen.
“Nah, pemerintah ini harus mendapatkan dana segar ya untuk menutupi ini. Nah ini yang sebenarnya yang membuat Rupiah ini kembali mengalami pelemahan," pungkasnya.

BERITA TERKAIT: