Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat, Tukus Arifan, mengatakan kebutuhan energi akan terus tumbuh karena hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada ketersediaan energi, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga kegiatan industri.
Ia mengilustrasikan, kebutuhan energi bahkan sudah muncul sejak manusia dilahirkan, baik untuk memasak, pemanas, maupun penggunaan listrik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa energi merupakan kebutuhan mendasar yang permintaannya akan terus ada.
Menurut Tukus, tantangan ke depan bukan hanya memastikan ketersediaan pasokan, tetapi juga mengarahkan pemanfaatannya pada sumber energi yang lebih bersih dan efisien.
"Saat ini kita berada pada momen penting, yaitu bagian dari pentingnya transisi energi menuju energi yang bersih, efisien, dan berkelanjutan. Transisi energi bukan hanya sebuah pilihan, melainkan langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060," ujarnya, di acara peresmian PLTS Atap di PT CCEP Indonesia Bekasi 2 Plant dikutip Kamis 5 November 2026
Ia menambahkan, pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi membutuhkan komitmen serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Di Jawa Barat, upaya memperkuat ketahanan energi juga dilakukan melalui program Listrik Desa (Lisdes), yang menyasar wilayah belum terjangkau jaringan listrik maupun masyarakat yang selama ini masih bergantung pada sambungan listrik milik orang lain.
Namun, menurut Tukus, pemerataan akses listrik juga membawa konsekuensi berupa peningkatan konsumsi energi. Pengalaman di sejumlah wilayah menunjukkan perubahan pola hidup masyarakat setelah memperoleh sambungan listrik secara mandiri.
Ia mencontohkan, sebagian warga yang sebelumnya hanya membayar sekitar Rp20.000 untuk listrik dari sambungan milik orang lain, kemudian harus mengeluarkan biaya hingga Rp100.000 setelah memiliki meteran sendiri.
Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi perubahan kebiasaan penggunaan listrik. Warga mulai menggunakan penanak nasi yang terus terhubung ke listrik, menambah lampu penerangan yang menyala sepanjang hari, hingga memanfaatkan jaringan internet komunal.
Pengalaman itu, kata Tukus, memperlihatkan bahwa akses energi dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong konsumsi listrik. Karena itu, pemerataan pasokan perlu diimbangi edukasi mengenai penggunaan energi secara bijak dan efisien.
Hal serupa dinilai berlaku di sektor industri. Penggunaan peralatan berdaya besar, seperti pompa air otomatis, perlu dikelola agar tidak menimbulkan konsumsi listrik yang berlebihan. Perusahaan juga didorong memanfaatkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekitar mengenai kemandirian dan efisiensi energi.
Di sisi lain, PLTS Atap menjadi salah satu opsi bagi industri untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Selain mendukung pengurangan ketergantungan pada sumber energi konvensional, teknologi ini membuka peluang bagi perusahaan untuk mengelola kebutuhan listrik secara lebih efisien.
Tukus menilai, peresmian PLTS Atap di PT CCEP Indonesia Bekasi 2 Plant merupakan contoh kolaborasi antara pelaku industri dan penyedia solusi energi. Proyek tersebut melibatkan CCEP Indonesia dan PT Cikarang Listrindo Tbk.
Ia berharap inisiatif tersebut dapat mendorong lebih banyak perusahaan di Jawa Barat mengembangkan energi terbarukan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lanjutnya, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, serta pelaku industri untuk memperluas peluang pengembangan energi bersih.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing industri di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi rendah emisi.
BERITA TERKAIT: