Direktur KRIS Adharta Ongkosaputra menyatakan bahwa setiap negara membutuhkan generasi muda yang memiliki jiwa sosial dan kemanusiaan.
“Pemimpin masa depan harus memiliki hati yang peka terhadap persoalan masyarakat. Mereka harus mampu melihat kemiskinan, penyakit, ketimpangan pendidikan, bencana, dan kerusakan lingkungan bukan sebagai persoalan orang lain, melainkan sebagai tanggung jawab bersama,” kata Adharta dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Ia ingin KRIS berkembang menjadi wadah pembelajaran kepemimpinan kemanusiaan bagi mahasiswa lintas fakultas dan lintas perguruan tinggi.
“Bayangkan jika mahasiswa kedokteran bergabung dengan mahasiswa teknik, ekonomi, hukum, komunikasi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mereka dapat membentuk tim multidisiplin untuk membantu masyarakat. Ada yang menangani edukasi kesehatan, ada yang mengembangkan solusi teknologi, ada yang mengelola pendanaan, ada yang memberikan pendampingan hukum, dan ada yang mengomunikasikan kebutuhan masyarakat,” bebernya.
Menurut Adharta, gerakan seperti ini akan jauh lebih kuat karena menggabungkan ilmu, keterampilan, dan kepedulian. Ia berharap Universitas Tarumanagara dapat menjadi salah satu pusat pengembangan gerakan tersebut.
Malam HUT ke-6 KRIS berlangsung meriah. Hiburan para penyanyi, permainan Bingo atau KIM yang membuat para tamu berjingkrak-jingkrak, serta kepiawaian MC Radith dan Mak Centong menciptakan suasana yang penuh kegembiraan.
Parade panitia yang memasuki ruangan dengan iringan lagu 'Lapaloma Blanca' dan 'Mars KRIS' memberikan semangat luar biasa.
“Tetapi, bagi saya, makna terbesar malam itu bukanlah kemeriahan panggung ataupun hiburan. Makna terbesarnya adalah komitmen untuk melanjutkan pengabdian,” ungkapnya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Tarumanagara, Prof. Dr. Ariawan Gunadi, seluruh panitia, pengurus, relawan, alumni, mahasiswa, para donatur, dan semua pihak yang selama ini mendukung perjalanan KRIS, para sponsorship, para relawan. Enam tahun telah kita lalui dengan segala tantangan dan pengorbanan. Kini saatnya kita melangkah lebih jauh,” tambah Adharta.
Lanjut dia, KRIS harus menjadi gerakan kemanusiaan lintas generasi. Bukan organisasi yang hanya dikenang karena pernah membantu masyarakat ketika pandemi, melainkan organisasi yang terus hadir ketika masyarakat menghadapi penyakit, kemiskinan, bencana, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya.
“Saya percaya, keberhasilan KRIS pada masa depan bukan diukur dari seberapa besar panggung perayaannya, melainkan dari seberapa banyak kehidupan manusia yang dapat kita selamatkan, kita pulihkan, dan kita tingkatkan kualitasnya,” tegas Adharta.
“KRIS Memanggil! Memanggil mereka yang peduli. Memanggil mereka yang mau bekerja. Memanggil generasi muda untuk mengambil bagian. Sebab kemanusiaan tidak mengenal batas usia, profesi, suku, maupun golongan,” bebernya lagi.
Enam tahun perjalanan telah menjadi sejarah. Perjalanan berikutnya adalah membangun masa depan kemanusiaan Indonesia. Dalam acara itu hadir pula mahasiswa Universitas Tarumanagara dari berbagai fakultas.
“Universitas Tarumanagara telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Setelah lulus, bersama almarhum Bapak Ir. Ciputra, saya mendapat kesempatan untuk membantu Universitas Tarumanagara. Kini, perguruan tinggi tersebut berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ariawan Gunadi, yang saya anggap sebagai anak sendiri,” tutur Adharta.
Ia menyebut hubungan ini bukan sekadar hubungan kelembagaan. Ada sejarah, persahabatan, kenangan, dan ikatan emosional yang telah berlangsung puluhan tahun.
Hubungan Erat dengan Untar
Hubungan dengan Untar kembali memiliki makna besar ketika tidak ketinggalan, Dr. Dedi Rochimat bersama Prof. Agustinus Purna Irawan, ketika menjabat Rektor Universitas Tarumanagara, melalui Yayasan Vivere turut menyumbangkan satu unit ambulans.
“Sementara itu, bersama alumni Fakultas Kedokteran, kami membangun gerakan pelatihan vaksinasi, mendidik para vaksinator, dan menggerakkan vaksinasi mandiri,” terang Adharta.
“Semua itu lahir dari kesadaran sederhana: ketika masyarakat sedang menghadapi ancaman besar, kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Dari semangat itulah gerakan kemanusiaan terus berkembang,” pungkasnya.
Enam tahun lalu, KRIS dikenal dengan nama KILLCOVID-19, lahir dari kebutuhan mendesak untuk membantu masyarakat menghadapi pandemi. Untuk lebih jelas mengetahui tentang KRIS bisa dilihat dalam website
www.kris.or.id.
BERITA TERKAIT: