Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, kontribusi terbesar berasal dari segmen penjualan sebesar Rp5,65 triliun. Sementara itu, pendapatan usaha menyumbang Rp1,83 triliun.
Dalam segmen penjualan, kaveling, rumah hunian, dan rumah toko (ruko) masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp5,43 triliun. Adapun penjualan apartemen tercatat Rp171,43 miliar dan ruang kantor sebesar Rp53,53 miliar.
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan profitabilitas perseroan. Meski beban pokok penjualan dan beban langsung berhasil ditekan menjadi Rp3,96 triliun dari Rp4,37 triliun pada periode yang sama tahun lalu, laba kotor CTRA tetap menyusut 12,33 persen menjadi Rp3,53 triliun.
Tekanan berlanjut hingga ke laba bersih. perusahaan pengembang properti (real estate) yang tergabung dalam Ciputra Group ini membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,32 triliun, turun sekitar 18,5 persen dibandingkan Rp1,62 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Sejalan dengan penurunan laba tersebut, laba per saham dasar perseroan juga terkoreksi menjadi Rp71 dari sebelumnya Rp88 per saham.
Dari sisi neraca, total aset CTRA tercatat sebesar Rp47,01 triliun per 30 September 2026, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp47,99 triliun.
Total liabilitas perseroan juga turun menjadi Rp19,38 triliun dari Rp21,07 triliun pada 31 Desember 2025. Sebaliknya, total ekuitas meningkat menjadi Rp27,63 triliun dari sebelumnya Rp26,92 triliun.
Sementara itu, kas dan setara kas CTRA tercatat sebesar Rp8,49 triliun pada akhir September 2026. Posisi tersebut menyusut dibandingkan Rp10,36 triliun pada akhir Desember 2025.
BERITA TERKAIT: