Pernyataan itu disampaikan setelah Indonesia mengumumkan pengurangan ekspor gas bumi ke Singapura mulai Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dalam pidatonya pada upacara penghargaan dan konferensi Komite Eksekutif Pusat (CEC), Minggu, 25 Oktober 2026, Wong mengungkapkan bahwa sebagian besar kebutuhan listrik Singapura masih bergantung pada gas alam, termasuk pasokan yang diimpor melalui jaringan pipa dari Indonesia.
Dia menegaskan, importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak.
"Kemarin, Indonesia mengumumkan pengurangan ekspor gasnya ke Singapura. Sekarang, pasokan gas dicakup oleh kontrak komersial. Kami mengharapkan semua pihak untuk menghormati komitmen mereka," kata dia.
Singapura disebut Wong telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan membangun terminal gas alam cair (LNG) agar dapat mengimpor gas dari berbagai negara tanpa bergantung pada jaringan pipa.
Namun, Singapura tidak ingin hanya mengandalkan gas alam. Wong mengatakan, negaranya juga membutuhkan sumber energi yang lebih bersih untuk menjamin ketersediaan listrik secara berkelanjutan.
Karena itu, opsi pemanfaatan energi nuklir mulai dipelajari secara serius, meskipun aspek keselamatan di negara kecil dan padat penduduk menjadi perhatian utama.
"Kita juga membutuhkan sumber energi yang lebih bersih untuk menyediakan listrik yang andal sepanjang waktu. Dan itulah mengapa kami mempelajari secara serius potensi energi nuklir," ungkapnya.
Sementara itu, Indonesia mulai memangkas ekspor gas bumi ke Singapura sebesar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menjelaskan, pengurangan tersebut berasal dari Natuna sebesar 15 BBTUD dan Sumatra sebesar 16 BBTUD.
“Mulai besok (Sabtu), kita kurangi (ekspor) gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatra 16 BBTUD,” kata Djoko di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026 malam.
Djoko menjelaskan, penyesuaian pasokan dari Sumatra berasal dari Wilayah Kerja (WK) Jambi Merang. Pengurangan hanya menyasar Singapura karena jaringan pipa ekspor yang tersedia terhubung langsung dengan negara tersebut.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas di dalam negeri.
Bahlil menyebut sekitar 30 persen produksi gas nasional masih diekspor, sementara 70 persen lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk sebagai bahan baku industri hilirisasi petrokimia.
BERITA TERKAIT: