Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mendorong pemerataan investasi agar pembangunan dan manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terpusat di dua kawasan tersebut.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, realisasi investasi pariwisata pada semester I 2026 mencapai Rp39,68 triliun, tumbuh 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Namun lebih dari 50 persen investasi pariwisata masih terkonsentrasi di greater Jakarta dan Bali,” kata Widiyanti dalam paparannya pada rapat kerja nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurutnya, peningkatan nilai investasi perlu diikuti dengan upaya memperluas distribusinya ke berbagai daerah. Pemerataan tersebut diperlukan agar pembangunan dan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan lebih luas.
“Karena itu selain meningkatkan nilai investasi, kita juga perlu mendorong pemerataan investasi ke berbagai daerah untuk pembangunan dan manfaat ekonomi pariwisata yang lebih merata,” ujarnya.
Widiyanti mengakui, pengembangan kawasan pariwisata masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan konektivitas penerbangan internasional, dukungan lintas kementerian dan lembaga yang belum optimal, hingga terbatasnya investasi unggulan yang dapat menjadi penggerak kawasan.
Pemerintah, lanjutnya, terus mengupayakan pembukaan rute penerbangan baru melalui penjajakan dengan maskapai serta skema insentif bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
BERITA TERKAIT: