Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan dewan IEA pada Kamis, 15 Oktober 2026, waktu setempat. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pelepasan cadangan yang telah disepakati pada Maret lalu untuk menambah pasokan energi dan meredam kenaikan harga di tengah gangguan distribusi minyak akibat perang Iran serta konflik Rusia-Ukraina.
“Dewan pengurus IEA menegaskan kembali komitmennya untuk terus melaksanakan Aksi Kolektif Maret 2026 sebagai respons terhadap krisis Selat Hormuz,” demikian pernyataan IEA setelah pertemuan tersebut, dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Pada Maret, negara-negara anggota IEA berjanji melepas lebih dari 400 juta barel minyak mentah dan produk minyak lainnya untuk mengatasi lonjakan harga. Hingga kini, sekitar 330 juta barel telah disalurkan. IEA menyebut sejumlah negara bahkan telah melepas minyak melebihi komitmen awal, sementara negara lainnya berencana melakukan hal serupa.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa pemerintah negara-negara Uni Eropa membahas usulan Prancis untuk melepas 50 juta barel diesel dan 50 juta barel minyak mentah dari cadangan negara anggota IEA. Namun, keputusan terbaru badan tersebut belum mengumumkan tambahan volume sebesar itu.
Amerika Serikat juga terus mendorong negara-negara Eropa agar memenuhi komitmen pelepasan cadangan minyak. Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan mengancam kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS ke Uni Eropa jika negara-negara tersebut dinilai tidak berupaya membantu menekan harga energi.
Kementerian Energi AS menyatakan pelepasan cadangan IEA berikutnya, dengan fokus pada diesel, masih ditinjau dan sedang berjalan. Sementara itu, Spanyol mengumumkan akan melepas 4,4 juta barel minyak dari cadangan strategisnya pada Oktober. Hingga saat ini, negara tersebut telah menyalurkan 3,7 juta barel dari total 11,5 juta barel yang dijanjikan pada Maret.
BERITA TERKAIT: