Langit Oranye Palangka Raya, Asap Karhutla Indonesia Picu Krisis Kesehatan Regional

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 16 Oktober 2026, 09:41 WIB
Langit Oranye Palangka Raya, Asap Karhutla Indonesia Picu Krisis Kesehatan Regional
Unggahan The Washington Post terkait fenomena langit orange di Palangka Raya akibat karhutla di media sosial X
Kecil Besar
rmol news logo Sorotan media internasional terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kian menguat seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah. Langit Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bahkan berubah oranye pekat akibat asap yang menyelimuti kota tersebut.

The Washington Post menyoroti fenomena itu melalui video yang diunggah di media sosial X baru-baru ini. 

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, media Amerika Serikat tersebut menyebut indeks polusi udara di Indonesia melampaui 1.200 pada hari itu, jauh di atas ambang batas berbahaya yang disebutkan dalam laporannya.

Kondisi di Palangka Raya bukan sekadar fenomena langit yang berubah warna. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di kota tersebut mencapai 2.512 mikrogram per meter kubik pada pukul 12.00 WIB, 14 Oktober 2026. Angka itu jauh melampaui ambang batas berbahaya sebesar 250,5 mikrogram per meter kubik.

Laporan Polri pada 15 Oktober menyebutkan, kualitas udara Palangka Raya telah berada dalam kategori berbahaya selama 37 hari berturut-turut. Kondisi tersebut dipicu asap dari kebakaran hutan dan lahan yang terus berlangsung di Kalimantan Tengah.

Dampak karhutla juga meluas ke luar negeri. Reuters melaporkan pada 14 Oktober bahwa Singapura mencatat konsentrasi PM2.5 tertinggi tahun ini, yakni 284 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Timor Leste menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka selama tiga hari akibat kualitas udara yang membahayakan kesehatan. Malaysia juga telah menutup sekolah di sejumlah wilayah karena kabut asap.

Laporan Reuters pada 15 Oktober menyebut kebakaran yang diperburuk kondisi kering akibat El NiƱo telah memicu lonjakan kasus gangguan pernapasan di Indonesia. Lebih dari 283.000 kasus dilaporkan di tujuh provinsi. Asap juga mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan dan transportasi.

Pemerintah Indonesia telah meningkatkan upaya pemadaman. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan lebih dari 60.000 personel dari berbagai instansi dikerahkan, terutama untuk menangani kebakaran di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

Dalam laporan pemerintah pada 12 Oktober, operasi pemadaman masih berlangsung di lahan seluas sekitar 639 hektare di enam provinsi prioritas. Upaya penanganan dilakukan melalui operasi darat, pengeboman air dari udara, serta modifikasi cuaca untuk membantu mendatangkan hujan.

Namun, penanganan kebakaran menghadapi tantangan besar, terutama pada lahan gambut yang telah mengering. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan, sementara asap tebal menghambat jarak pandang dan operasi pemadaman udara.

Pemerintah juga menyoroti kerusakan ekosistem gambut sebagai salah satu faktor yang memperparah kebakaran. Pada 15 Oktober, Reuters melaporkan pemerintah berencana memulihkan ekosistem gambut, antara lain melalui pembasahan kembali lahan dan perbaikan tata kelola kanal air.

Pakar dan pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa pemadaman saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta pemulihan ekosistem gambut menjadi bagian penting dari penanganan jangka panjang.

Sorotan The Washington Post terhadap langit oranye Palangka Raya pun menjadi gambaran nyata dampak karhutla yang melampaui persoalan lingkungan. Ketika asap menembus batas wilayah dan negara, kebakaran hutan Indonesia berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat dan tantangan regional yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA