Mengutip data
Bloomberg, Rupiah bergerak ke Rp17.906 per Dolar AS, melemah 6 poin atau 0,03 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pelemahan Rupiah terjadi di tengah masih tingginya harga minyak dunia, meski mulai sedikit mengalami penurunan.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak terdekat turun 96 sen atau 0,9 persen menjadi 105,69 Dolar AS per barel.
Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 40 sen atau 0,4 persen menjadi 94,14 Dolar AS per barel.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pemerintah perlu mencermati tantangan pengadaan minyak mentah di tengah konflik Timur Tengah yang memperketat pasokan energi global.
Menurutnya, mencari pemasok alternatif dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Negara-negara di dunia saat ini sama-sama membutuhkan minyak, sementara keterbatasan pasokan dan logistik berisiko mendorong kenaikan harga serta biaya pengadaan.
“Indonesia perlu memperkuat pasokan dari Afrika yang selama ini menjadi salah satu sumber impor utama, sekaligus menjajaki peluang pengadaan minyak dari Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Mesir, hingga negara-negara Eropa,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Namun, diversifikasi sumber impor disebut tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan ketersediaan minyak mentah. Pemerintah bersama PT Pertamina juga perlu memperhitungkan biaya dan manfaat pengadaan, termasuk konsekuensi fiskal yang mungkin timbul.
“Pasalnya, Pertamina menjadi pihak yang melakukan pembelian minyak mentah, sehingga keputusan pengadaan harus mempertimbangkan harga beli dan seluruh biaya terkait,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: