Sepanjang perdagangan 28 September-2 Oktober 2026, GOTO menjadi saham dengan volume transaksi terbesar di Bursa. Total perdagangan mencapai 110,96 miliar saham, setara 43,54 persen dari seluruh volume transaksi bursa dalam sepekan.
Tekanan jual yang sempat membayangi GOTO mulai mereda pada perdagangan terakhir pekan lalu. Saham GOTO ditutup melonjak 7,14 persen ke Rp30 per saham pada Jumat 2 Oktober 2026, dengan nilai transaksi harian menembus Rp2,7 triliun.
Pada perdagangan Senin 5 Oktober 2026, saham GOTO masih bertahan di level Rp30 per saham.
Besarnya aktivitas perdagangan juga terlihat dari nilai transaksi GOTO sepanjang pekan lalu yang mencapai Rp3,06 triliun. Angka tersebut menyumbang 4,79 persen terhadap total nilai transaksi Bursa dan menempatkan GOTO di posisi ketiga setelah Bank Central Asia (BBCA) dan Telkom (TLKM).
Perubahan pola perdagangan ini terjadi setelah BEI menghapus batas bawah harga Rp50 di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Sebelumnya, tekanan jual membuat saham GOTO terkoreksi selama empat hari perdagangan sejak aturan baru tersebut mulai berlaku pada 28 September.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan GoTo, R.A. Koesoemohadiani, mengatakan perubahan aturan tersebut memberikan kesempatan kepada pemegang saham yang sebelumnya mengantre menjual saham untuk kembali melakukan transaksi di pasar reguler. Kondisi itu turut memicu fluktuasi harga saham perseroan.
“Perseroan meyakini bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis,” kata Koesoemohadiani dalam keterbukaan informasi di BEI, dikutip redaksi, senin 5 Oktober 2026.
Di sisi lain, manajemen menegaskan bahwa perkembangan harga saham tidak menggambarkan kinerja bisnis GoTo yang dinilai masih berada dalam tren positif.
Pada kuartal II 2026, GoTo mencatat laba bersih Rp252 miliar. Dengan capaian tersebut, perseroan membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih perseroan mencapai Rp5,7 triliun, sedangkan EBITDA yang disesuaikan menembus lebih dari Rp1 triliun. GoTo juga masih berada di jalur untuk mencapai target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
Untuk memperkuat nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang, perseroan juga menyiapkan dua aksi korporasi.
Pertama, program buyback saham periode 2026-2027 dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun. Rencana ini telah mendapat persetujuan RUPSLB pada 18 Juni 2026.
“Implementasi akan bergantung pada keputusan manajemen, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar global dan nasional terkini beserta segala dinamika yang terjadi pada saat ini.”
Kedua, GoTo berencana mengurangi modal melalui penarikan kembali sebagian saham treasuri atau penghapusan saham treasuri. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026.
Saham treasuri yang menjadi bagian dari rencana tersebut berasal dari aksi buyback pada periode 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025, dengan total mencapai 32.186.417.802 saham Seri A.
BERITA TERKAIT: