Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato pembukaan The Sixth Global Forum of the United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC), di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat (29/8) pagi. Penyelenggaraan UNAOC tahun ini mengambil tem, 'Unity in Diversity: Celebrating Diversity for Common and Shared Values'.
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa sejarah dipenuhi dengan contoh-contoh di seluruh dunia dimana tabrakan antara peradaban mengakibatkan perang, konflik dan penindasan. Namun, saya percaya bahwa di zaman saat ini kita memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk mengubah jalannya sejarah menjadi lebih baik," kata SBY.
Umat manusia telah membayar biaya intoleransi untuk waktu yang sangat lama. Konflik bersenjata, kelaparan, dan penyakit telah mengakibatkan lebih dari 180 juta orang meninggal sepanjang abad 20. Namun, toh dunia belum usai dari perang.
Sejumlah permasalahan saat ini sedang terjadi di dunia, antara lain, hubungan antara negara-negara besar, setelah kira-kira satu dekade stabilitas dan kerja sama, sekarang dalam tren menurun yang berbahaya. Selain itu, di Timur Tengah juga kita melihat pergeseran geopolitik cepat yang telah menciptakan banyak turbulensi.
Banyak orang menyebut saat ini terjadi 'Perang Dingin baru'. "Apa pun itu, bagi saya itu sudah terasa seperti 'Perdamaian Panas', dan itu tidak akan mendingin sendiri. Di sinilah masyarakat internasional dan UNAOC dapat memainkan peran penting untuk membantu memperbaiki situasi mengkhawatirkan ini," jelas SBY seperti dilansir dari situs resmi
presidenri.go.
Sebelumnya, Menlu Marty Natalegawa menyampaikan rangkaian acara UNAOC telah diawali dengan Youth Event pada Kamis (28/8). Acara ini dihadiri oleh ratusan anak muda dari berbagai negara. Youth Event adalah salah satu agenda dari UNAOC yang mencoba untuk menggaet anak muda dan meningkatkan kesadaran mereka untuk mengobarkan perdamaian dan harmonisasi masyarakat.
"UNAOC adalah forum internasional yang ditujukan membahas peradaban, kebudayaan dan perbedaan yang ada di dunia," ujar Marty.
Menlu Marty menekankan dan menjelaskan bagaimana persatuan dalam perbedaan bekerja di Indonesia. "Persatuan dalam perbedaan sangat dekat dengan Indonesia. Ini bukan hanya konsep, tapi fakta hidup di Indonesia," imbuhnya. Persatuan adalah aplikasi dari prinsip demokrasi, lanjut Marty, sehingga demokrasi dan perbedaan pasti bisa bersatu.
Hadir pada kesempatan ini, diantaranya, Sekjen PBB Ban Ki-Moon, PM Timor Leste Xanana Gusmao, Menteri Luar Negeri Kerjaan Spanyol Jose Manuel Garci, dan Wakil PM Turki Besir Atalay.
[rus]
BERITA TERKAIT: