Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap (Dispertanak), Toendan Iriani, mengatakan ancaman kekeringan sudah melanda 24 kecamatan sluruh Cilacap. Dua pekan sebelumnya kekeringan dilaporkan baru terjadi pada wilayah-wilayah yang terhitung tinggi.
"Solusi tercepat adalah dengan irigasi tetes atau mesin sedot air. Tapi ini hanya bisa dilakukan di lahan pertanian yang dekat dengan aliran sungai," kata Toendan kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 30/7).
Skala jangka panjang, Dispertanak Cilacap merencanakan mebuat sumur pantek (bor) di lahan yang jauh dari aliran sungai. Dengan demikian kebutuhan airnya tercukupi dengan baik sepanjang tahun.
Terpisah, Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki Kecamatan Gandrungmangu, Imam Baekuni mengatakan ada puluhan hektar sawah yang puso, terutama di sekitar kawasan Ciputih. Pasalnya, lahan Ciputih ini jauh dari irigasi maupun aliran sungai.
"Di sana ada rawa, tapi beberapa tahun terakhir ini cepat sekali kering. Akhirnya petani tidak bisa mengandalkannya," jelasnya.
Dia berharap agar pemerintah segera merealisasikan sumur bor di wilayah yang jauh dari aliran sungai.
Imam mengakui tahun ini kemarau datang lebih cepat dari biasanya. Tahun sebelumnya, bulan Juni hujan masih stabil, baru pada bulan Juli hujan sudah menurun intensitasnya. Namun tahun ini hujan sudah berhenti pada bulan Juni lalu.
"Semenjak awal Juni hingga sekarang tidak ada hujan yang cukup untuk membasahi area sawah," ujarnya.
Tanaman padi yang puso ini oleh warga dimanfaatkan sebagai pakan sapi dan kerbau. Namun banyak juga yang dibiarkan mati mengering di sawah.
[ysa]
BERITA TERKAIT: