Pasalnya, sebagai motor pertumbuhan ekonomi, kalangan industri masih dihadapkan dengan masalah inefisiensi yang menyebabkan rendahnya daya saing produk dalam negeri dibandingkan dengan produk asing khususnya China.
Namun, seperti dikatakan Ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Dahnil Anzar Simanjuntak, rendahnya daya saing bukan karena industri dalam negeri tidak memiliki kapasitas, tapi lebih karena dukungan minim dari pemerintah untuk mendorong tumbuhnya industri dalam negeri.
"Khususnya (minimnya) dukungan ketersediaan infrastruktur jalan dan kelistrikan serta pelabuhan yang selama ini menjad faktor utama ekonomi biaya tinggi," ujar Dahnil kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 25/12).
Tak sampai disitu, masih kata Dahnil, kalangan industri juga masih akan menghadapi permasalahan perpajakan dan birokrasi yang ikut melengkapi ekonomi biaya tinggi. Akhirnya, dia menarik kesimpulan, perjuangan industri dalam negeri masih ekstra keras untuk tahun depan.
[zul]
BERITA TERKAIT: