Kemampuan tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting bagi seorang politikus dalam menjalankan peran dan menghadapi dinamika politik.
Penilaian itu disampaikan UAS saat menerima kunjungan silaturahmi Gus Muhaimin bersama sejumlah petinggi PKB di kediamannya, Ma’had Az Zahra, Kampar, Riau, Kamis, 22 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan setelah Muhaimin memimpin apel Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Dar el Hikmah, Pekanbaru.
Dalam pertemuan itu, UAS menekankan bahwa kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuan berpikir, tetapi juga dari kecakapan mengendalikan emosi.
“Jadi, orang yang cerdas itu adalah orang yang bisa mengendalikan emosi. Kalau sudah emosi, malah hilang kecerdasan. Jadi Cak Imin, kalau saya lihat, dia bisa mengendalikan emosi. Kita bisa tengok dia slow, santai,” ujar UAS.
UAS juga mengibaratkan peran para tokoh di berbagai bidang dengan posisi pemain dalam sebuah tim sepak bola. Menurutnya, setiap orang memiliki tugas dan keahlian masing-masing yang perlu dijalankan secara proporsional, tanpa saling merendahkan atau menyalahkan.
Ia menggambarkan tokoh yang bergerak di lingkungan pesantren sebagai penjaga gawang, sementara politikus yang terjun langsung ke arena politik berperan sebagai striker atau penyerang.
“Kita bagi tugas. Ada yang jaga gawang di pondok, ada yang menjadi striker, penyerang di partai. Cak Imin memang tugasnya striker. Striker yang paling hebat menurut saya itu ya Cak Imin,” ujar UAS.
Analogi tersebut menegaskan pandangan UAS bahwa setiap orang memiliki ruang pengabdian yang berbeda. Tokoh pesantren dan politikus, menurutnya, dapat menjalankan perannya masing-masing tanpa harus saling menyalahkan.
Lebih jauh, UAS mengingatkan bahwa seseorang yang ingin terjun ke dunia politik perlu memiliki kematangan emosional. Menurutnya, sikap mudah marah, terbawa perasaan, atau merajuk dapat menjadi hambatan dalam menjalankan tanggung jawab politik.
“Kalau orang politik itu kalau masih marah, masih baper, masih ngambek, enggak usah,” kata UAS saat menyinggung pentingnya pengendalian diri bagi mereka yang ingin berkiprah di dunia politik.
BERITA TERKAIT: