Rocky Gerung Masuk Istana Bukan untuk Berhenti Mengkritik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Selasa, 20 Oktober 2026, 14:18 WIB
Rocky Gerung Masuk Istana Bukan untuk Berhenti Mengkritik
Anggota Wantimpres Rocky Gerung (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)
Kecil Besar
rmol news logo Rocky Gerung menegaskan tetap kritis terhadap pemerintahan Prabowo Subianto meski kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ia mengaku masuk ke lingkar kekuasaan bukan untuk meninggalkan tradisi kritik, melainkan membawa kebebasan intelektual untuk mengoreksi kebijakan dari dalam.

Rocky menyadari keputusannya bergabung dengan pemerintahan menuai kekecewaan. Namun, menurutnya, sikap kritis tidak ditentukan oleh posisi seseorang di dalam atau di luar kekuasaan.

“Kritis atau tidak kritis bukan soal sejauh apa. Kritik itu bukan ordinal, tetapi nominal. Artinya, bukan kritik 10 persen atau 20 persen karena ada kompromi di dalam kabinet. Kritik itu ya kritik atau tidak kritik,” kata Rocky dikutip dari tayangan salah satu televisi swasta, Selasa, 20 Oktober 2026.

Ia mengatakan tetap membawa tradisi berpikir kritis yang tumbuh selama berada di lingkungan kampus. Jika sebelumnya gagasan itu disampaikan dari luar kekuasaan, kini ia ingin membawa perspektif yang sama untuk menguji kebijakan dari dalam pemerintahan.

“Saya tidak mewakili suara mahasiswa, tetapi saya ingin mahasiswa mengerti bahwa saya tidak akan mengkhianati mereka. Saya datang dari komunitas kampus,” ujarnya.

Rocky juga menyebut Presiden Prabowo memperkenalkannya di Wantimpres sebagai representasi komunitas pemikir akademik, bukan perwakilan organisasi politik, kelompok keagamaan, ataupun kalangan purnawirawan.

“Filsuf akademisi itu konstan, tidak akan berubah,” tegasnya.

Untuk menjelaskan sikapnya, Rocky mengibaratkan kritik sebagai perangkat dari luar yang diperlukan untuk membongkar bangunan kekuasaan. Menurutnya, sistem tidak bisa mengandalkan perangkatnya sendiri untuk mengoreksi persoalan yang bersumber dari dalam.

“Peralatan raja tidak mungkin dipakai untuk membongkar istana raja. Maka, harus menggunakan peralatan dari luar. Itulah kritik radikal,” ucap Rocky.

Ia kemudian menggunakan analogi ilmu kedokteran untuk menjelaskan bagaimana kerusakan dapat menyebar ketika sel yang bermasalah tidak menghentikan dirinya. Rocky menyamakan kondisi itu dengan koruptor yang dinilainya terus merusak sistem.

“Koruptor juga begitu sekarang,” katanya.

Rocky menilai koruptor bahkan dapat berlindung di balik birokrasi dan regulasi sehingga praktik yang merusak terus berlangsung.

“Alasan saya masuk kabinet buat mengejar sesuatu yang seharusnya sudah punah, yaitu koruptor,” tandasnya. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: DIKI TRIANTO

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA