Penegasan tersebut disampaikan oleh Presiden Lajnah Tanfidziyah Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, dalam pembukaan Kongres Nasional/Majelis Tahkim Syarikat Islam (SI) ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu 18 Oktober 2026.
Hamdan menegaskan, sosialisme Islam atau sosialisme berketuhanan harus tetap menjadi landasan perjuangan organisasi dalam membangun ekonomi kebangsaan dan kerakyatan. Hal ini juga menjadi fokus utama dalam kongres yang berlangsung pada 17-20 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati.”
Menurut Hamdan, sosialisme Islam yang menjadi warisan perjuangan HOS Tjokroaminoto merupakan gagasan tentang keadilan sosial, kebangsaan, dan kerakyatan yang berasaskan nilai-nilai Islam.
“Yaitu sosialisme kebangsaan dan sosialisme kerakyatan yang berasaskan Islam,” tegas Hamdan dalam keterangan tertulisnya, Senin 19 Oktober 2026
Ia menekankan bahwa gagasan tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah masa lalu SI, melainkan ideologi perjuangan yang harus terus dikontekstualisasikan dengan persoalan bangsa Indonesia saat ini.
"Karena itu, dakwah ekonomi yang menjadi tema Kongres ke-42 tidak diposisikan semata-mata sebagai program pemberdayaan ekonomi umat, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan masyarakat yang mandiri, adil, dan berdaulat," ucapnya.
Hamdan mengingatkan, sejak awal kelahirannya, Syarikat Islam tumbuh dari keresahan terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan yang dialami kaum pribumi. Gerakan tersebut berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi bersama kalangan pedagang dan pengusaha pribumi di Laweyan, Surakarta.
Baginya, pilihan perjuangan melalui jalur ekonomi bukanlah kebetulan. Kemiskinan dan ketergantungan ekonomi pada masa kolonial telah menjadi akar dari berbagai persoalan sosial, mulai dari kebodohan, keterbelakangan, hingga hilangnya rasa percaya diri masyarakat pribumi.
“Perlawanan dimulai dari gerakan memperbaiki ekonomi rakyat, karena di bidang itulah sumber masalah yang menyebabkan kita dijajah,” tuturnya.
Dari Surakarta, lanjut Hamdan, gerakan tersebut kemudian menemukan momentum politik dan kebangsaannya di Surabaya. Kongres dan rapat akbar Syarikat Islam di Surabaya pada awal 1913 yang dihadiri sekitar 15.000 anggota serta simpatisan menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pergerakan nasional.
Surabaya kemudian menjadi tempat tumbuhnya rumah perjuangan HOS Tjokroaminoto di Kampung Peneleh. Rumah tersebut berkembang menjadi ruang perkaderan dan pendidikan politik yang mempertemukan gagasan tentang Islam, kebangsaan, ekonomi, dan kemerdekaan.
Sejumlah tokoh yang kelak memainkan peranan penting dalam sejarah Indonesia, seperti Soekarno, RM Kartosoewirjo, dan Semaun, pernah tinggal dan berinteraksi dengan Tjokroaminoto di lingkungan tersebut.
"Gagasan yang berkembang di Peneleh kemudian diperluas melalui media Oetoesan Hindia, sehingga pemikiran kebangsaan dan semangat perlawanan terhadap kolonialisme menyebar lebih luas," urainya.
Dalam pandangan Hamdan, perjuangan ekonomi yang dirintis Syarikat Islam sejak era SDI memiliki kesinambungan yang erat dengan gagasan sosialisme Islam. Salah satu wujud nyatanya adalah pengembangan Koperasi Setia Oesaha dan NV Handel Maatschappij Setia Oesaha sebagai upaya memperluas akses kaum pribumi terhadap modal.
"Koperasi ditempatkan bukan sekadar sebagai badan usaha, tetapi sebagai institusi ekonomi berdimensi sosial yang bertujuan menghadirkan kesejahteraan bersama melalui prinsip syirkah ta'awuniyah atau kerja sama berasas gotong royong," tuturnya.
Semangat itulah yang, menurut Hamdan, hendak dihidupkan kembali melalui konsep dakwah ekonomi. Dakwah tidak lagi dipahami sebatas penyampaian ajaran keagamaan, melainkan sebagai upaya konkret membangun jiwa kewirausahaan, pendidikan, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemahaman tersebut sejalan dengan konsep pendidikan Muslim Nationale Onderwijs yang dirumuskan oleh Tjokroaminoto pada 1925, yang menunjukkan bahwa perjuangan membangun masyarakat merdeka tidak dapat dipisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan.
Terkait pelaksanaan Kongres ke-42 ini, Hamdan meyakini acara tersebut menjadi momentum untuk menyegarkan kembali pemahaman terhadap Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam. Keduanya harus dibaca dan diimplementasikan dalam menjawab realitas masyarakat serta dinamika kebangsaan dan kenegaraan saat ini.
Syarikat Islam, kata dia, tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Warisan pemikiran Tjokroaminoto harus diterjemahkan untuk menjawab tantangan zaman, termasuk mengatasi ketimpangan ekonomi, beradaptasi dengan kemajuan teknologi, perkembangan informasi, hingga menghadapi era post-truth.
"Di sinilah gagasan sosialisme Islam hendak ditempatkan kembali: sebagai nilai perjuangan yang mendorong keadilan sosial, kemandirian ekonomi, pendidikan, gotong royong, dan kesejahteraan rakyat," pungkasnya.
Dakwah Ekonomi Harus Menjadi Kekuatan Umat
Sementara itu, Menteri Koperasi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa gagasan dakwah ekonomi akan diterjemahkan secara nyata melalui penguatan ekonomi syariah, koperasi, serta pengelolaan zakat dan wakaf.
Menurut Ferry, penguatan tersebut antara lain dilakukan dengan mendorong koperasi berbasis pesantren dan masjid, memperluas pembiayaan syariah, serta memperlebar akses permodalan agar semakin banyak pengusaha muslim yang dapat tumbuh dan mengambil peran lebih besar dalam perekonomian nasional.
Ferry menilai Syarikat Islam memiliki modal sejarah yang kuat karena sejak awal kelahirannya lahir dari rahim gerakan ekonomi rakyat, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi kekuatan pergerakan kebangsaan yang besar.
Dengan demikian, dakwah ekonomi yang diusung dalam Kongres ke-42 merupakan bentuk aktualisasi nyata dari warisan perjuangan tersebut.
"Dari perjuangan ekonomi kaum pribumi, gagasan sosialisme Islam, pendidikan dan perkaderan, hingga penguatan koperasi dan ekonomi syariah hari ini, Syarikat Islam berupaya menyambungkan kembali satu garis perjuangan: membangun umat yang mandiri dan berdaulat sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati," tutup Ferry.
BERITA TERKAIT: