Rektor UNIS Tangerang, Prof. Dr. Mustofa Kamil, mengatakan bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses pendidikan. Sebaliknya, ijazah harus menjadi titik awal bagi lulusan untuk terus mengembangkan diri dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia mengajak para wisudawan meneladani semangat perjuangan Syekh Yusuf, tokoh yang tetap berdakwah, mengajar, menulis, dan membangun peradaban meskipun mengalami pengasingan hingga ke Ceylon, kini Sri Lanka, dan Cape Town, Afrika Selatan.
Menurut Kamil, keteguhan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa keterbatasan keadaan tidak seharusnya menghentikan seseorang untuk terus berkarya dan memberikan manfaat.
“Dalam menghadapi persaingan menuju Indonesia Emas 2045, khususnya di Banten dan Tangerang Raya, lulusan UNIS tidak boleh mudah menyerah. Ijazah bukan sekadar jaminan kenyamanan, melainkan lisensi untuk terus belajar dan tiket perjuangan untuk meningkatkan kompetensi melalui upskilling dan reskilling,” ujarnya.
Mustofa Kamil juga menyoroti tantangan ekonomi global dan nasional yang memengaruhi pasar tenaga kerja, termasuk keterbatasan penyerapan tenaga kerja di sektor formal. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut lulusan perguruan tinggi untuk lebih adaptif dalam menentukan arah karier.
Bagi lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan, ia mendorong agar situasi tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun masa depan.
Sementara itu, lulusan yang telah bekerja diharapkan terus meningkatkan keterampilan dan memperluas kapasitas profesional agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.
“Bagi alumni yang sudah memperoleh pekerjaan, teruslah mengembangkan kompetensi agar karier semakin baik. Bagi yang belum, jangan kehilangan semangat. Bangun kemandirian dan berwirausaha,” jelasnya.
Menurut dia, kesiapan menghadapi dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Lulusan juga perlu membuktikan kemampuan melalui keterampilan yang relevan, sertifikasi profesional, dan kemauan untuk terus memperbarui pengetahuan.
UNIS Perkuat Sertifikasi Profesi
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing lulusan, UNIS mengoptimalkan peran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk melengkapi kompetensi akademik dengan kompetensi profesional.
Melalui penguatan sertifikasi, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan sesuai bidang studinya, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat mendukung kebutuhan dunia kerja.
“Dengan LSP, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dari program studinya, tetapi juga tambahan kompetensi profesional. Dengan demikian, mereka memiliki bekal untuk bersaing di dunia yang lebih luas,” ungkap Mustofa.
Selain sertifikasi profesi, UNIS juga mendorong alumni yang ingin memperdalam keahlian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Pendidikan lanjutan dapat menjadi jalur pengembangan karier, baik sebagai akademisi, dosen, widyaiswara, maupun profesional di bidang yang membutuhkan kualifikasi lebih tinggi.
Ia menegaskan bahwa pendidikan dan pengembangan diri harus berlangsung sepanjang hayat. Gelar akademik menjadi bukti pencapaian pendidikan, tetapi kontribusi seseorang pada akhirnya ditentukan oleh tindakan dan karya nyata.
“Ijazah adalah mahkota keilmuan, tetapi tindakan dan karya nyata para wisudawanlah yang akan mengukir sejarah. Jadilah obor penerang di tengah masyarakat dan pembawa kemajuan bagi bangsa dan agama,” tuturnya.
Ketua Yayasan Islam Syekh-Yusuf (YIS), Dr. Ir. M. Yus Firdaus, turut mengingatkan para lulusan mengenai perubahan besar yang dibawa teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut Yus Firdaus, perubahan teknologi berlangsung semakin cepat dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan. Karena itu, gelar akademik perlu disertai kemampuan berpikir kritis, kemauan belajar berkelanjutan, dan kepemimpinan yang membawa dampak positif.
Ia memperkenalkan tiga kompetensi utama yang perlu dikembangkan lulusan, yakni think, learn, dan lead.
Kompetensi think berarti kemampuan memahami persoalan dan merumuskan solusi. Learn menekankan kemauan untuk terus belajar serta beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun lead merupakan kemampuan memimpin diri sendiri dan memberikan pengaruh positif bagi lingkungan.
“Kita hidup di tengah perubahan yang bergerak begitu cepat. Teknologi dan AI mengubah berbagai bidang kehidupan. Ijazah dan gelar saja tidak cukup, tetapi perlu dilengkapi dengan tiga kompetensi penting, yaitu think, learn, dan lead,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Kompetensi tersebut semakin penting agar lulusan mampu menghadapi perubahan sekaligus menciptakan peluang di tengah dinamika dunia kerja.
Melalui Wisuda ke-51, UNIS Tangerang berharap para lulusan dapat membawa semangat perjuangan Syekh Yusuf dalam kehidupan profesional dan sosial. Dengan terus belajar, memperkuat kompetensi, serta menghasilkan karya yang bermanfaat, para alumni diharapkan mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah, kemajuan bangsa, dan kehidupan masyarakat.
BERITA TERKAIT: