Profil Martha Tilaar Perintis Industri Kecantikan Indonesia

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Kamis, 15 Oktober 2026, 17:24 WIB
Profil Martha Tilaar Perintis Industri Kecantikan Indonesia
Ilustrasi Profil Martha Tilaar Perintis Industri Kecantikan Indonesia (Sumber: Instagram Martha Tilaar Group)
Kecil Besar
rmol news logo Profil Martha Tilaar menjadi sorotan setelah pendiri Martha Tilaar Group tersebut meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) dalam usia 89 tahun. Kepergian tokoh industri kecantikan Indonesia ini meninggalkan jejak panjang dalam pengembangan kosmetik lokal yang mengangkat kekayaan alam dan tradisi Nusantara.

Martha dikenal sebagai sosok di balik merek Sariayu yang memadukan warisan kecantikan Indonesia dengan perkembangan industri kosmetik modern. Ia merintis bisnis kecantikan dari sebuah salon sederhana pada 1970 hingga mengembangkan usaha yang mencakup produk kosmetik, jamu, dan pendidikan kecantikan.

Perjalanan Martha Tilaar tidak terlepas dari kegigihan, pengalaman belajar di luar negeri, serta ketertarikannya terhadap ramuan tradisional Indonesia. Berikut profil Martha Tilaar, mulai dari biodata, latar belakang pendidikan, perjalanan karier, hingga kiprahnya dalam membangun industri kecantikan nasional.

Profil Martha Tilaar

Mengutip laman resmi Martha Tilaar Group, Martha Tilaar lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia berasal dari keluarga Jawa-Tionghoa dengan kondisi ekonomi yang berkecukupan. Kakeknya diketahui bekerja sebagai leveransir atau penyedia barang pada masa penjajahan Belanda.

Martha menghabiskan masa kanak-kanaknya di Gombong, Jawa Tengah, bersama kedua adiknya. Sejak kecil, ia mendapatkan berbagai bekal keterampilan dari ibunya yang turut membentuk karakter dan jiwa kewirausahaannya.

Jiwa kewirausahaan Martha Tilaar mulai terlihat ketika ia masih bersekolah. Ia kerap menjual hasil kerajinannya kepada teman-teman, berupa perhiasan sederhana yang dibuat dari sogok telik dan jali-jali putih yang dirangkai menjadi kalung serta gelang.

Kebiasaan itu menjadi salah satu pengalaman yang membentuk keterampilan Martha dalam menjalankan bisnis. Di kemudian hari, kemampuan tersebut berkembang seiring dengan pengetahuan dan pengalamannya di bidang kecantikan.

Awal Ketertarikan Martha Tilaar pada Dunia Kecantikan

Saat muda, Martha dikenal memiliki penampilan tomboy dan kurang memperhatikan riasan. Ibunya bahkan menjulukinya seperti dakocan, boneka asal Jepang.

Melihat penampilan putrinya, sang ibu kemudian mengantarkan Martha mengikuti kursus kecantikan Bu Titi, yang dikenal sebagai salah satu pengajar kecantikan ternama di Jakarta pada masa itu. Pengalaman tersebut menjadi titik awal ketertarikan Martha terhadap dunia kecantikan. 

Pendidikan Martha Tilaar di IKIP Jakarta

Selain tertarik pada kecantikan, Martha Tilaar juga menyukai sejarah. Ketertarikan tersebut tumbuh dari cerita-cerita yang disampaikan ayahnya, mulai dari kisah rakyat seperti Joko Tarub dan Bawang Merah Bawang Putih hingga tokoh sejarah seperti Henry Dunant dan R.A. Kartini.

Ia juga menyukai kesenian rakyat, termasuk pertunjukan wayang, ketoprak, ludruk, dan ronggeng. Minat tersebut kemudian mengantarkannya mengambil jurusan Pendidikan Sejarah di IKIP Jakarta.

Martha berhasil meraih gelar sarjana pada 1963. Latar belakang pendidikannya menunjukkan bahwa perjalanan menuju industri kecantikan tidak dimulai dari pendidikan formal di bidang kosmetik, melainkan melalui pengalaman dan pembelajaran yang terus dikembangkan.

Martha Tilaar kemudian berangkat ke Amerika Serikat untuk mendampingi suaminya, Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf Tilaar, M.Sc., yang menjalani tugas belajar. Selama berada di Amerika Serikat, Martha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam keterampilan kecantikan. 

Ia belajar di Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana, dan menyelesaikan pendidikannya pada 1968. Setelah itu, Martha bekerja selama tiga tahun di Campus Beauty Salon yang berada di lingkungan Universitas Indiana. 

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal praktik bisnis salon dan layanan kecantikan secara lebih mendalam. Sekembalinya ke Indonesia, Martha mulai merintis usaha sendiri dengan menggabungkan pengetahuan kecantikan modern dan tradisi perawatan tubuh yang berkembang di masyarakat.

Pada 1970, Martha Tilaar membuka salon kecantikan pertamanya dengan modal terbatas. Salon berukuran sekitar 6 x 4 meter persegi itu dirintis di garasi rumah.

Usaha tersebut perlahan mendapat perhatian pelanggan. Sejumlah tokoh dan kalangan pejabat, termasuk Rahmi Hatta, Nelly Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, serta istri para duta besar, disebut pernah mengunjungi salon yang berlokasi di kawasan Jalan Tosari, Jakarta Pusat.

Setelah sekitar dua tahun menjalankan usaha, Martha berkunjung ke sejumlah pusat kecantikan di Eropa untuk memperdalam pengetahuannya. Pengalaman tersebut memperkaya wawasannya mengenai perawatan tubuh dan pengembangan produk kecantikan.

Sekembalinya ke Indonesia, Martha mulai meracik kosmetik berbahan alami dengan memanfaatkan pengetahuan tentang ramuan tradisional dan jamu. Ia menggali pengetahuan tersebut dari tradisi perawatan tubuh yang diwariskan para orang tua dan praktisi pengobatan tradisional.

Pada 1972, Martha membuka salon kecantikan kedua dan mulai menawarkan perawatan yang mengangkat tradisi kecantikan Indonesia.

Perjalanan bisnis Martha Tilaar memasuki tahap baru pada 1977. Bersama Theresia Harsini Setiady dan Bernard Pranata, ia mendirikan PT Martina Berto, perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik dan jamu.

Perusahaan tersebut kemudian mengembangkan Sariayu sebagai merek produk kecantikan yang mengangkat kekayaan bahan alami dan tradisi Nusantara. Melalui merek ini, Martha berupaya mempertemukan pengetahuan kecantikan tradisional dengan kebutuhan industri kosmetik modern.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA