Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa menilai dugaan spionase di lingkaran domestik bukan sekadar persoalan keamanan, tetapi juga menyangkut stabilitas pemerintahan dan posisi tawar Indonesia dalam percaturan global.
Penegasan tersebut disampaikan merespons dugaan penyadapan yang dilakukan oleh kelompok Listyo Sigit Prabowo (LSP) terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagaimana diungkap Bareskrim Polri.
"Ketika seorang kepala negara yang memegang kendali penuh atas kebijakan strategis nasional menjadi objek penyadapan oleh faksi di dalam negeri sendiri, hal ini mengirimkan sinyal bahaya yang menunjukkan adanya kerentanan struktural yang sangat serius bagi keamanan negara," ujar Teguh di Pekanbaru, Riau, Rabu, 4 November 2026.
Menurut Teguh, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah membangun momentum diplomatik melalui keterlibatan aktif dalam berbagai forum internasional dan penerapan politik luar negeri bebas aktif.
Namun, dugaan penyadapan terhadap kepala negara dapat memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan informasi, keamanan komunikasi pemerintahan, serta kepastian hukum di Indonesia.
Dalam perspektif geopolitik, kepercayaan internasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer dan pengaruh diplomatik. Kemampuan negara menjaga kerahasiaan informasi strategis dan stabilitas institusi pemerintahan juga menjadi faktor penting.
Teguh mengingatkan, kerentanan di dalam negeri berpotensi dimanfaatkan aktor asing untuk melemahkan posisi Indonesia dalam persaingan geopolitik.
"Aksi spionase internal semacam ini berpotensi dimanfaatkan oleh aktor-aktor geopolitik asing yang ingin melihat Indonesia melemah dari dalam," katanya.
Atas dasar itu, GREAT Institute mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan komunikasi kepresidenan, termasuk audit keamanan siber dan pengawasan terhadap prosedur pengamanan informasi strategis.
Teguh juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan tindakan di luar koridor hukum dan konstitusi. Menurutnya, kepentingan politik kelompok tertentu tidak boleh mengesampingkan kedaulatan dan kepentingan nasional.
GREAT Institute menyatakan akan terus mencermati perkembangan kasus tersebut dari perspektif geopolitik, terutama dampaknya terhadap kredibilitas Indonesia dan kepercayaan komunitas internasional.
BERITA TERKAIT: