Dalam wawancara dengan media Singapura, Balakrishnan menyebut terdapat komitmen bersama dari kedua negara untuk menjunjung tinggi prinsip pacta sunt servanda, yakni kewajiban memenuhi perjanjian yang telah disepakati.
Menurutnya, penghormatan terhadap kontrak tidak hanya menyangkut pasokan gas, tetapi juga berkaitan dengan kredibilitas dan daya saing ekonomi kedua negara.
“Semua pihak memahami mengapa tanda tangan dan kewajiban kontraktual itu penting; hal ini melampaui sekadar subjek tertentu, melainkan menyangkut kredibilitas dan daya saing ekonomi kedua negara," ungkapnya dikutip Kamis, 29 Oktober 2026.
Dia menambahkan, berdasarkan pengalamannya selama beberapa dekade, kontrak di kawasan Asia Tenggara dihormati dan dijunjung tinggi. Karena itu, ia menekankan perlunya langkah nyata untuk memastikan komitmen yang telah disampaikan benar-benar dilaksanakan.
"Saya merasa lega dengan hal ini. Kita perlu melihat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata,” tegas Balakrishnan.
Terkait pertemuannya dengan Prabowo, Balakrishnan tidak mengungkapkan secara terperinci pembahasan yang berlangsung.
Namun, ia memastikan komunikasi di tingkat tertinggi antara Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Prabowo telah terjalin.
“Hal ini menunjukkan komitmen politik dari kedua belah pihak untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan; kini, kita harus mengimplementasikan rencana tersebut dan mewujudkan komitmen itu,” tambahnya.
Sebelumnya, Indonesia mulai mengurangi pasokan gas alam ke Singapura pada Sabtu, 24 Oktober 2026, untuk mengalihkan lebih banyak gas bagi kebutuhan domestik.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong merespons dengan menyatakan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga hak dan kepentingan mereka berdasarkan perjanjian yang berlaku.
Menurut Wong, pasokan gas yang diterima Singapura dilindungi oleh kontrak komersial. Dia menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban oleh setiap pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
Sementara itu, Otoritas Pasar Energi Singapura mencatat pengurangan pasokan dari Indonesia mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari atau MMSCFD, setara dengan kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian Singapura.
Meski demikian, Menlu Balakrishnan menyebut Singapura telah menyiapkan terminal gas alam cair (LNG) dan mendiversifikasi sumber pasokan guna mengantisipasi gangguan energi.
BERITA TERKAIT: