Berita

Kepala Suku Kanum, Yeremias K. Ndimar bersama Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Kalai Anim (IMPKA), serta pegiat budaya dan lingkungan Agustinus Mahuze di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Merauke, beberapa waktu lalu. (Foto: Dokumentasi MPSI)

Nusantara

Masyarakat Adat Kanum Butuh Pengakuan dan Keterwakilan Politik

SELASA, 03 NOVEMBER 2026 | 15:54 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Perjuangan masyarakat adat Kanum untuk memperoleh pengakuan kelembagaan telah berlangsung lebih dari lima tahun. Kepala Suku Kanum, Yeremias K. Ndimar, berharap pemerintah daerah menindaklanjuti proses tersebut sebagai bagian dari penguatan identitas masyarakat adat dan keterlibatan mereka dalam pengambilan kebijakan di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Harapan itu disampaikan Yeremias dalam pertemuan bersama Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Kalai Anim (IMPKA), serta pegiat budaya dan lingkungan Agustinus Mahuze di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Merauke, beberapa waktu lalu.

Yeremias menjelaskan bahwa masyarakat Kanum memiliki sejarah, bahasa, tradisi, dan sistem penguasaan wilayah yang diwariskan secara turun-temurun. Karakteristik tersebut menjadi dasar perjuangan agar keberadaan Kanum memperoleh pengakuan sesuai identitas dan tatanan adatnya.


“Suku ini harus diakui,” tegas Yeremias dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, masyarakat telah menyiapkan dokumen kelembagaan dan melakukan pemetaan wilayah adat. Ia berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti proses tersebut dengan memperhatikan sejarah kesukuan serta kedudukan marga-marga yang memiliki hak atas wilayah leluhur masing-masing.

Yeremias menekankan bahwa setiap marga memiliki ketentuan penguasaan dan pewarisan tanah tersendiri. Karena itu, proses pengakuan perlu mempertimbangkan struktur adat agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan hubungan masyarakat terhadap wilayahnya.

Selain persoalan kelembagaan, Yeremias menyoroti keterwakilan masyarakat Kanum dalam pemerintahan. Ia menyinggung keberadaan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) dan Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai bagian dari pembahasan mengenai kesempatan masyarakat adat menyampaikan aspirasi melalui lembaga daerah.

Dalam pertemuan yang sama, Agustinus Mahuze menyoroti relevansi pengakuan masyarakat adat terhadap partisipasi politik Orang Asli Papua. Pembahasan tersebut berkaitan dengan kebijakan afirmasi, termasuk pentingnya mempertimbangkan keberagaman kesukuan dan jumlah kampung dalam melihat kebutuhan keterwakilan masyarakat.

Agustinus menempatkan pengakuan identitas dan kelembagaan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembahasan partisipasi politik. Keterwakilan masyarakat adat tetap perlu ditempuh melalui mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Yeremias mengingatkan pentingnya menjaga bahasa, sejarah, dan pengetahuan adat di tengah perubahan sosial. Ia berharap generasi muda Kanum tetap memahami identitas serta tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya.

Kehadiran mahasiswa IMPKA dalam pertemuan tersebut membuka kesempatan untuk mempelajari secara langsung sejarah masyarakat Kanum, struktur adat, dan perkembangan proses pengakuan yang sedang diperjuangkan.

Yeremias berharap dokumen kelembagaan dan hasil pemetaan yang telah disiapkan memperoleh tindak lanjut dari pemerintah daerah. Kepastian proses tersebut menjadi harapan masyarakat Kanum untuk menjaga identitas dan memperkuat kedudukannya dalam kehidupan sosial serta pembangunan Merauke.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya