Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Tbk, Suryandi. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Produk petrokimia asal China yang lebih murah menjadi tantangan bagi industri petrokimia dalam negeri. Persaingan harga menuntut produsen lokal menjaga efisiensi operasional dan menekan biaya agar tetap kompetitif.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Tbk, Suryandi, mengatakan produk petrokimia China memiliki keunggulan harga karena mendapat dukungan pemerintah dan bahan baku yang lebih murah.
"Untuk menghadapi persaingan dengan China, ya kita harus lihat apa yang kita bisa lakukan," kata Suryandi dalam diskusi bersama Forum Wartawan Industri di Hotel Bidakara, Senin, 2 November 2026.
Menurutnya, salah satu prioritas perusahaan adalah menjaga operasional pabrik agar tidak terganggu. Sebab, penghentian produksi berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan.
"Satu hari kita shutdown, kita rugi 2 juta dolar. Mungkin sekarang bukan 2 juta dolar lagi karena kapasitasnya lebih besar, bisa mungkin 3-4 juta dolar, 2 kali lipat," ujarnya.
Selain menjaga kelancaran produksi, Chandra Asri juga akan lebih cermat mengelola biaya di luar produksi, termasuk beban pinjaman bank. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kinerja keuangan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Di sisi lain, perusahaan mengandalkan keunggulan distribusi domestik untuk mempertahankan pelanggan. Chandra Asri memiliki jaringan gudang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta dukungan logistik yang memungkinkan produk menjangkau pelanggan lebih cepat.
Suryandi menilai, pembelian produk impor membutuhkan waktu pengiriman dan proses kepabeanan yang berpotensi memperlambat ketersediaan barang bagi industri hilir.
"Apa yang Chandra Asri bisa berikan, apa yang bisa kita siapkan adalah produknya ada di pabrik kita di Indonesia, ada di Jawa, ada warehouse dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, ada distribusinya juga yang memang under control," jelasnya.
Ia menambahkan, kepastian pasokan menjadi nilai tambah bagi pelanggan yang membutuhkan bahan baku secara cepat. Menurutnya, keunggulan tersebut penting agar industri hilir dalam negeri tetap menjadikan produk lokal sebagai pilihan dan tidak sepenuhnya bergantung pada impor.
Saat ini, industri petrokimia dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan nasional, sedangkan 40 persen lainnya masih dipenuhi melalui impor. Di tengah kondisi tersebut, Suryandi memperkirakan permintaan produk petrokimia Indonesia dapat tumbuh sekitar 5 hingga 6 persen per tahun.
"Yang kita perlu jaga adalah serbuan-serbuan dari produk impor. Yang tadi harganya lebih murah," pungkasnya.