Berita

Ilustrasi (Foto: Kemenag)

Nusantara

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

SENIN, 02 NOVEMBER 2026 | 17:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Agama (Kemenag) membuka pelatihan mandiri secara daring melalui platform Massive Open Online Course (MOOC) Pintar untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan, khususnya pesantren.

Pelatihan bertajuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan ini dibuka untuk pendaftaran pada 2–5 November, sedangkan kegiatan berlangsung pada 6–10 November.

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag RI Basnang Said  menegaskan, pelatihan SafeKader merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman sekaligus melindungi santri dari kekerasan dan pelecehan seksual.


"Pesantren harus menjadi ruang pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan karakter yang aman serta bermartabat bagi seluruh santri. Kita tidak boleh membiarkan doktrin agama, otoritas keilmuan, maupun relasi kuasa disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual. Agama tidak pernah memberikan legitimasi terhadap kekerasan. Karena itu, melalui pelatihan SafeKader ini, kami ingin membangun kesadaran dan kapasitas kolektif agar seluruh elemen pesantren memiliki pengetahuan, keberanian, dan keterampilan untuk mencegah kekerasan, mengenali tanda-tanda risiko, serta memastikan setiap santri memperoleh perlindungan," tegasnya.

Basnang Said menjelaskan, SafeKader merupakan bagian dari program besar SAFESANTRI yang mencakup lima kebijakan, yakni SafeNorma, SafeKader, SafeIndeks, SafeLapor, dan SafeMitra.

Direktur Pemberdayaan Pesantren Kemenag RI, Yusi Damayanti, mengatakan, penciptaan lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari sistem pengasuhan hingga keterlibatan seluruh warga pesantren.

"Membangun pesantren yang ramah anak dan bebas dari kekerasan tidak cukup hanya dengan menyelesaikan kasus atau mengubah regulasi di permukaan saja. Diperlukan transformasi yang menyentuh akar, mulai dari tata kelola pengasuhan, pemetaan risiko, hingga pelibatan aktif seluruh warga pesantren melalui kerangka kerja yang holistik," ujar Yusi.

Menurutnya, pencegahan kekerasan perlu menjadi bagian dari keseharian pesantren, bukan sekadar respons setelah kasus terjadi. Karena itu, pengasuh dan seluruh elemen pendidikan perlu dibekali kemampuan untuk mengenali potensi kekerasan sejak dini serta memberikan penanganan yang tepat.

"Pencegahan kekerasan harus menjadi bagian dari budaya keseharian di pesantren, bukan hanya dilakukan ketika terjadi sebuah kasus. Karena itu, penguatan kapasitas pengasuh dan seluruh warga pesantren menjadi sangat penting agar mereka mampu menciptakan lingkungan yang aman, mengenali potensi risiko sejak dini, dan memberikan respons yang tepat ketika menghadapi situasi kekerasan," tegas Yusi.

Ia juga menyoroti peran pengasuh, ustadz, serta musyrif dan musyrifah dalam mendeteksi kerentanan santri dan membangun komunikasi yang empatik. Mereka dinilai bukan sekadar pengawas asrama, melainkan pihak terdepan yang harus mampu mendengarkan santri tanpa menghakimi.

Materi pelatihan SafeKader mencakup tiga tahapan pencegahan kekerasan. Pencegahan primer meliputi asesmen risiko, mitigasi, edukasi, dan kampanye. Pencegahan sekunder berfokus pada deteksi dini, pelaporan, intervensi cepat, serta pendampingan korban. Adapun pencegahan tersier diarahkan pada pembentukan budaya antikekerasan secara berkelanjutan dan pelibatan komunitas untuk mencegah kasus berulang.

Pelatihan ini juga menerapkan pendekatan Child Safeguarding yang mencakup kebijakan perlindungan anak, kode etik perilaku, penyediaan lingkungan kegiatan yang aman, saluran pengaduan ramah anak, serta mekanisme respons dan evaluasi yang transparan.

Kemenag mengajak pengasuh pesantren, ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah, serta tenaga kependidikan di satuan pendidikan keagamaan untuk mengikuti pelatihan tersebut melalui platform MOOC Pintar pada periode pendaftaran 2-5 November.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya