Program cetak sawah yang digencarkan Kementerian Pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional membuka peluang pasar bagi industri drone dalam negeri.
Perusahaan manufaktur drone lokal, Frogs Indonesia mengungkapkan kebutuhan drone untuk program tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 7.000 unit.
CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan permintaan drone pertanian, khususnya untuk penyemprotan atau spraying, menjadi yang paling besar seiring dengan program ekstensifikasi pertanian pemerintah.
“Dari program PSN cetak sawahnya saja itu membutuhkan lebih dari 7.000 unit drone. Dengan 160.000 hektare yang ada di Papua, lalu ada yang di Sulawesi dan lain sebagainya,” kata Adhitya di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, drone dapat digunakan dalam berbagai tahapan pertanian, mulai dari pemetaan lahan, penyebaran bibit, penyemprotan pestisida, pemupukan, hingga pemantauan kesehatan tanaman.
Menurut Adhitya, penggunaan drone juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional pertanian secara signifikan.
Pekerjaan penyemprotan untuk lahan seluas satu hektare, misalnya, dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 15 menit menggunakan drone, sedangkan secara konvensional dapat memakan waktu hingga tujuh hari.
“Dari segi efektivitas dan produktivitas pertanian itu sangat amat jauh. Hampir 83 sampai 85 persen (penghematan biaya operasional),” ujarnya.
Meski membutuhkan investasi awal yang besar untuk pembelian unit dan baterai, teknologi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas pertanian.
“Memang high capital di depan untuk pembelian unit drone-nya, baterai, dan lain sebagainya. Tapi dari segi efektivitas dan produktivitas pertanian itu sangat amat jauh,” tambahnya.
Adhitya mengungkapkan, Frogs telah memasok drone melalui pengadaan Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir. Pada tahun pertama, pengadaan mencapai 50 unit, meningkat menjadi 250 unit pada tahun kedua, dan sebanyak 100 unit pada tahun ini.
Secara keseluruhan, nilai pembelanjaan drone Frogs melalui pengadaan Kementerian Pertanian disebut telah mencapai lebih dari Rp20 miliar. Adhitya menegaskan, dalam beberapa kerja sama Frogs juga berperan sebagai manufaktur, sedangkan transaksi pengadaan dilakukan melalui distributor.
Di sisi lain, Frogs mengklaim produk drone pertaniannya memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 66 persen. Adhitya menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi di Indonesia.
“TKDN-nya 53 persen tambah 15,5 persen, jadi 66 persen. Sudah paling tinggi di Indonesia,” ungkapnya.
Meski begitu, ia mengakui industri drone dalam negeri masih bergantung pada impor untuk sejumlah komponen utama, antara lain baterai, motor DC brushless, dan propeler.
Menurutnya, pengembangan ekosistem industri komponen lokal diperlukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan dari luar negeri, khususnya China.
“Harapan kami karena dari asosiasi juga kita mengembangkan semua infrastruktur, ekosistem, kita buat regulasinya, kita kumpulkan semua pemain-pemain drone dan juga tier kedua, artinya suku cadang dan lain sebagainya. Kita inginkan untuk bisa merdeka dari China,” tegasnya.
Perluas Pasar ke Luar Negeri
Di tengah peluang pasar domestik, Frogs juga berupaya memperluas jangkauan bisnis ke pasar internasional.
Adhitya mengatakan pihaknya telah beberapa kali menjajaki pasar Korea Selatan dan Singapura, serta mulai menjajaki peluang di kawasan Afrika dan Amerika Latin.
“Sudah, kita sudah lakukan
approach berkali-kali ke Korea, terus kemarin ke Singapura, itu berbagai macam negara di sana. Kita juga dapat opportunity di Afrika, Amerika Latin, semua masih proses,” kata Adhitya.
Adhitya berharap perluasan pasar dapat membuka peluang baru bagi industri drone lokal, sekaligus meningkatkan skala bisnis dan memperkuat daya saing produk buatan Indonesia di pasar global.