Berita

CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Tekno

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

KAMIS, 29 OKTOBER 2026 | 23:45 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Program cetak sawah yang digencarkan Kementerian Pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional membuka peluang pasar bagi industri drone dalam negeri. 

Perusahaan manufaktur drone lokal, Frogs Indonesia mengungkapkan kebutuhan drone untuk program tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 7.000 unit.

CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan permintaan drone pertanian, khususnya untuk penyemprotan atau spraying, menjadi yang paling besar seiring dengan program ekstensifikasi pertanian pemerintah.


“Dari program PSN cetak sawahnya saja itu membutuhkan lebih dari 7.000 unit drone. Dengan 160.000 hektare yang ada di Papua, lalu ada yang di Sulawesi dan lain sebagainya,” kata Adhitya di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, drone dapat digunakan dalam berbagai tahapan pertanian, mulai dari pemetaan lahan, penyebaran bibit, penyemprotan pestisida, pemupukan, hingga pemantauan kesehatan tanaman.

Menurut Adhitya, penggunaan drone juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional pertanian secara signifikan. 

Pekerjaan penyemprotan untuk lahan seluas satu hektare, misalnya, dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 15 menit menggunakan drone, sedangkan secara konvensional dapat memakan waktu hingga tujuh hari.

“Dari segi efektivitas dan produktivitas pertanian itu sangat amat jauh. Hampir 83 sampai 85 persen (penghematan biaya operasional),” ujarnya.

Meski membutuhkan investasi awal yang besar untuk pembelian unit dan baterai, teknologi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

“Memang high capital di depan untuk pembelian unit drone-nya, baterai, dan lain sebagainya. Tapi dari segi efektivitas dan produktivitas pertanian itu sangat amat jauh,” tambahnya.

Adhitya mengungkapkan, Frogs telah memasok drone melalui pengadaan Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir. Pada tahun pertama, pengadaan mencapai 50 unit, meningkat menjadi 250 unit pada tahun kedua, dan sebanyak 100 unit pada tahun ini.

Secara keseluruhan, nilai pembelanjaan drone Frogs melalui pengadaan Kementerian Pertanian disebut telah mencapai lebih dari Rp20 miliar. Adhitya menegaskan, dalam beberapa kerja sama Frogs juga berperan sebagai manufaktur, sedangkan transaksi pengadaan dilakukan melalui distributor.

Di sisi lain, Frogs mengklaim produk drone pertaniannya memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 66 persen. Adhitya menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi di Indonesia.

“TKDN-nya 53 persen tambah 15,5 persen, jadi 66 persen. Sudah paling tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengakui industri drone dalam negeri masih bergantung pada impor untuk sejumlah komponen utama, antara lain baterai, motor DC brushless, dan propeler.

Menurutnya, pengembangan ekosistem industri komponen lokal diperlukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan dari luar negeri, khususnya China.

“Harapan kami karena dari asosiasi juga kita mengembangkan semua infrastruktur, ekosistem, kita buat regulasinya, kita kumpulkan semua pemain-pemain drone dan juga tier kedua, artinya suku cadang dan lain sebagainya. Kita inginkan untuk bisa merdeka dari China,” tegasnya.

Perluas Pasar ke Luar Negeri

Di tengah peluang pasar domestik, Frogs juga berupaya memperluas jangkauan bisnis ke pasar internasional. 

Adhitya mengatakan pihaknya telah beberapa kali menjajaki pasar Korea Selatan dan Singapura, serta mulai menjajaki peluang di kawasan Afrika dan Amerika Latin.

“Sudah, kita sudah lakukan approach berkali-kali ke Korea, terus kemarin ke Singapura, itu berbagai macam negara di sana. Kita juga dapat opportunity di Afrika, Amerika Latin, semua masih proses,” kata Adhitya.

Adhitya berharap perluasan pasar dapat membuka peluang baru bagi industri drone lokal, sekaligus meningkatkan skala bisnis dan memperkuat daya saing produk buatan Indonesia di pasar global.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya