Berita

Karya seni UFOLOGIC garapan Venzha Christ menghadirkan pengalaman eksperimental dalam gelaran ArtSubs 2026 (Sumber: Istimewa)

Nusantara

Penampakan Telur Alien dan Eksplorasi Alam Semesta Paralel Karya Venzha Christ di ArtSubs 2026

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 16:45 WIB | OLEH: TIFANI

Karya seni UFOLOGIC garapan Venzha Christ menghadirkan pengalaman eksperimental dalam gelaran ArtSubs 2026. Ia mengajak pengunjung ArtSubs 2026 mempertanyakan keberadaan UFO atau Unidentified Flying Object (UFO), fenomena anomali tak dikenal (Unidentified Anomalous Phenomena atau UAP), hingga kemungkinan adanya alam semesta paralel. 

Dipresentasikan dalam bentuk Telur Alien, karya ini memadukan eksplorasi ruang-waktu, teknologi deteksi akustik, dan persepsi manusia terhadap realitas yang belum sepenuhnya dipahami. Mengutip konsep yang terpajang di ruang pamer ArtSubs 2026, UFOLOGIC merupakan proyek eksperimental dan kolaboratif antara v.u.f.o.c Lab dan Indonesia Space Science Society (ISSS). 

Proyek ini mengeksplorasi hubungan antara UAP, struktur ruang-waktu, kemungkinan dimensi tambahan, hipotesis parallel universe, sistem deteksi akustik, serta konstruksi persepsi dan budaya manusia. Venzha Christ memulai proyek ini dari pertanyaan mendasar mengenai apakah fenomena yang dikategorikan sebagai UAP sepenuhnya berada dalam kerangka ruang-waktu yang dapat diamati manusia. 


Ia juga mempertanyakan kemungkinan bahwa fenomena tersebut merupakan manifestasi atau bentuk interaksi dengan struktur realitas yang berada di luar batas pengalaman manusia.

Telur Alien dan Eksperimen Mendengarkan Frekuensi

Bentuk Telur Alien dalam UFOLOGIC menggambarkan imajinasi manusia tentang keberadaan UFO atau UAP yang penampakannya kerap dilaporkan dan disaksikan di Planet Bumi. Fenomena tersebut memunculkan beragam pertanyaan dan interpretasi, mulai dari sudut pandang mistis hingga pendekatan saintifik.

Pengunjung ArtSubs 2026 dapat merasakan langsung pengalaman yang ditawarkan karya ini dengan memasuki Telur Alien tersebut. Di dalamnya, pengunjung dapat mencoba mendengarkan berbagai frekuensi yang dihasilkan oleh sebuah mesin berupa DIY Radio Astronomy.

Venzha Christ menjelaskan bahwa karya ini berangkat dari pemahaman mengenai ruang dan waktu dalam Teori Relativitas Khusus dan Relativitas Umum Albert Einstein. Dalam kedua kerangka tersebut, ruang dan waktu dipahami sebagai satu kesatuan kontinuum empat dimensi atau 3+1-dimensional spacetime yang bersifat dinamis. 

Geometri ruang-waktu ini dipengaruhi oleh distribusi massa dan energi. Kerangka tersebut menjadi dasar untuk mempertanyakan bagaimana suatu fenomena dapat diamati ketika berinteraksi dengan struktur ruang-waktu tertentu. 

"Perspektif ini kemudian diperluas melalui sejumlah formulasi dalam String Theory atau Teori Dawai, yang secara matematis memungkinkan keberadaan dimensi tambahan," kata Venzha dalam wawancara daring pada Senin (12/10/2026).

Secara spekulatif, apabila suatu fenomena berdimensi lebih tinggi berinteraksi dengan ruang-waktu yang kita alami, manusia mungkin tidak dapat mengamati keseluruhan fenomena tersebut.  Pengamatan yang muncul bisa jadi hanya berupa proyeksi, irisan (cross-section), atau jejak interaksi fisiknya.

Mengulik Kemungkinan Alam Semesta Paralel

Melalui UFOLOGIC, Venzha Christ mengajak pengunjung kembali mempertanyakan keberadaan manusia di alam semesta yang begitu luas, dengan berbagai fenomena anomali yang masih belum terjelaskan. Pameran ini dikuratori oleh Asmudjo Jono Irianto dan Nirwan Dewanto. 

Salah satu gagasan yang dieksplorasi dalam UFOLOGIC adalah konsep alam semesta paralel (parallel universe), yang memperluas spekulasi mengenai struktur realitas ke ranah ontologis. Konsep tersebut membuka kemungkinan bahwa alam semesta yang kita alami bukanlah satu-satunya domain realitas.

Gagasan alam semesta paralel memiliki berbagai formulasi dalam fisika teoretis dan kosmologi. Namun, hingga saat ini, belum terdapat bukti empiris yang menunjukkan bahwa UAP berasal dari alam semesta lain.

Venzha Christ, yang juga menjabat sebagai Direktur Indonesia Space Science Society (ISSS), menegaskan bahwa dalam UFOLOGIC, alam semesta paralel dan dimensi tambahan tidak diperlakukan sebagai konsep yang identik. Keduanya ditempatkan sebagai kemungkinan teoretis yang berbeda untuk mempertanyakan struktur realitas di luar ruang-waktu yang dapat diakses manusia secara langsung.

Lantas, apakah alien berasal dari planet yang sangat jauh atau keberadaan mereka berkaitan dengan dimensi yang berbeda dari manusia? Venzha menjelaskan bahwa frekuensi dalam UFOLOGIC diperlakukan sebagai parameter fisik yang dapat diukur, bukan sebagai asumsi mengenai “frekuensi dimensi lain”.

"Apabila suatu fenomena anomali berinteraksi dengan atmosfer, materi, atau lingkungan lokal, termasuk ruang galeri tempat karya ini dipamerkan, interaksi tersebut secara hipotetis dapat menghasilkan jejak akustik atau vibrasional yang bisa dianalisis secara kuantitatif," katanya.

Eksperimen dalam UFOLOGIC tidak semata-mata berangkat dari spekulasi tentang keberadaan makhluk asing, tetapi juga mempertanyakan kemungkinan munculnya jejak fisik yang dapat diukur melalui instrumen dan pendekatan ilmiah.

Fisika Kuantum dan Batas Pengetahuan Manusia

Dalam konteks fisika kuantum, UFOLOGIC tidak menempatkan mekanika kuantum sebagai bukti keberadaan UAP interdimensional. Sebaliknya, fisika kuantum digunakan sebagai kerangka epistemologis untuk mempertanyakan hubungan antara pengukuran, informasi, observasi, dan representasi realitas.

Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman manusia terhadap fenomena fundamental selalu bergantung pada instrumen, model matematis, serta kerangka interpretasi yang digunakan. UFOLOGIC tidak bertujuan membuktikan bahwa UAP berasal dari dimensi lain atau alam semesta paralel. 

Kedua kemungkinan tersebut ditempatkan sebagai kerangka spekulatif dan epistemologis untuk menguji batas antara hal-hal yang dapat diukur, sesuatu yang dapat dipersepsikan, dan fenomena yang masih berada di luar kemampuan pengetahuan manusia. Pada akhirnya, UFOLOGIC membangun sebuah antarmuka eksperimental antara ruang-waktu, fenomena anomali, teknologi sensor, persepsi, dan budaya. 

Karya ini menjadi upaya untuk menginvestigasi apakah fenomena yang belum dipahami (unidentified) dapat meninggalkan jejak fisik terukur (measurable physical signature) di dalam realitas yang kita alami. Di saat yang sama, karya ini mengajak pengunjung mempertanyakan bagaimana manusia memberikan makna terhadap sesuatu yang berada di luar batas pengetahuannya.

Apakah UFO, UAP, dan alien benar-benar telah hidup bersama manusia dalam sebuah telur besar yang kita sebut alam semesta paralel? Ataukah mereka berasal dari tata surya lain yang berada jauh di luar Planet Bumi?

Pengunjung dapat menyaksikan dan merasakan langsung pengalaman mendengarkan frekuensi yang dihasilkan karya UFOLOGIC di ArtSubs 2026, sekaligus mengeksplorasi pertanyaan tentang alam semesta, fenomena anomali, dan batas pengetahuan manusia.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya