Berita

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Pemerintahan

Hashim Curhat Awal Mula Gagasan MBG:

Prabowo Prihatin 30 Persen Anak RI Stunting pada 2006

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 15:22 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi program unggulan pemerintah merupakan gagasan atas keresahan Presiden Prabowo Subianto terhadap persoalan gizi anak Indonesia sejak dua dekade lalu.

Hashim bercerita, saat 2006 lalu dirinya masih tinggal di Eropa. Prabowo kemudian memanggilnya untuk membicarakan persoalan kualitas pendidikan dan gizi anak-anak Indonesia.

"Beliau menyampaikan kekhawatirannya mengenai kualitas pendidikan dan kualitas gizi kita,"kata Hashim dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.


Ia mengatakan, kala itu angka stunting di Indonesia disebut mencapai 30 persen. Namun, ia mengaku tidak mengetahui permasalahan soal stunting.

“Faktanya pada tahun 2006 itu, 30 persen anak-anak Indonesia mengalami stunting. Saya sendiri tidak tahu apa itu stunting. Maklum, saya ini seorang pengusaha,” kata Hashim.

Menurut Hashim, Prabowo saat itu menjelaskan panjang lebar mengenai persoalan kekurangan gizi yang tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan makanan, tetapi juga rendahnya kualitas asupan sehari-hari.

“Anak-anak Indonesia bukannya kelaparan dalam arti tidak makan sama sekali, melainkan mereka mendapatkan asupan makanan yang kualitasnya buruk atau tidak tepat. Makanannya hanya nasi, nasi, dan nasi setiap hari, hanya ditambah sedikit garam atau sedikit pelengkap lainnya,” kata Hashim.

Hashim mengatakan, Prabowo sejak awal mengkhawatirkan dampak jangka panjang stunting terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama ketika anak-anak tersebut memasuki usia produktif. Ia menilai, tingginya angka stunting berpotensi menghambat Indonesia memanfaatkan bonus demografi. 

"Jadi, masalahnya seperti yang dikatakan Prabowo saat itu dan masih relevan hingga kini adalah bahwa mereka yang mengalami stunting dan kondisinya berlanjut hingga dewasa cenderung memiliki rata-rata IQ sebesar 72. Itulah angka yang kami terima: 72. Begitulah tingkat kecerdasan mereka yang mengalami stunting,"tegas Hashim.

"Mereka justru menjadi beban. Mereka menjadi tanggungan karena alih-alih berkontribusi pada perekonomian, sisa populasi yaitu 70 persen lainnya harus menopang mereka melalui program-program khusus dan semacamnya. Jadi, itulah masalah yang kami amati pada tahun 2006 dan 2007, dan langkah-langkah untuk mengatasinya menjadi landasan bagi program makan gratis kami," sambungnya.

Hashim menegaskan, kekhawatiran tersebut menjadi salah satu landasan pemikiran di balik program makan gratis yang kini dijalankan pemerintahan Prabowo saat ini.

Lebih lanjut, ia juga menepis anggapan bahwa program makan gratis merupakan gagasan tanpa preseden. Hashim mencontohkan pengalamannya bersekolah di Quintin Grammar School, London, Inggris, pada 1960-an, ketika ia menerima makan gratis selama dua tahun.

Menurut Hashim, program serupa juga telah diterapkan di banyak negara sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Ini adalah program yang sebenarnya didasarkan pada preseden, pada program-program sebelumnya yang sangat sukses. Jadi, salah satu hal yang ingin kami lakukan pemerintah ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia," tandasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya