Berita

Wakil Menteri Keuangan, Nurkholishoh Ibnu Aman. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Pemerintahan

Kemenkeu Manfaatkan AI untuk Awasi Transaksi dan Aset Wajib Pajak

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 14:17 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning untuk memperkuat pengawasan kepatuhan pajak, mulai dari menganalisis transaksi sektor usaha hingga memetakan aset wajib pajak berpenghasilan tinggi.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Nurkholishoh Ibnu Aman mengatakan, pemanfaatan teknologi berbasis data diperlukan untuk membantu otoritas pajak mengidentifikasi risiko dan meningkatkan ketepatan pengawasan.

“Data besar, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mesin dapat membantu kita menemukan risiko dan mengawasi kepatuhan pajak dengan lebih baik,” ujar Nurkholishoh dalam sambutannya pada BRITACOF ke-7 di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.


Salah satu penerapannya adalah penggunaan machine learning untuk menganalisis faktur elektronik pada sektor minyak kelapa sawit. Teknologi tersebut membantu otoritas pajak mengidentifikasi barang yang diperjualbelikan, jumlah transaksi, serta nilai penjualannya.

Data tersebut kemudian dibandingkan dengan informasi produksi dan laporan penjualan perusahaan untuk menemukan potensi ketidaksesuaian.

Nurkholishoh menjelaskan, pendekatan serupa juga dikembangkan untuk memetakan wajib pajak berpenghasilan tinggi yang memiliki aset dan kepemilikan di berbagai perusahaan.

Kemenkeu mengembangkan dasbor yang menghubungkan informasi individu, keluarga, perusahaan, aset, serta hubungan kepemilikan di antara berbagai entitas tersebut.

“Bagi kami, perpajakan cerdas berarti menggunakan data untuk menciptakan keadilan, mempermudah wajib pajak yang patuh, dan memusatkan perhatian pada area yang benar-benar membutuhkan pengawasan,” kata Nurkholishoh.

Ia menegaskan, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan administrasi perpajakan. Kapasitas sumber daya manusia, regulasi yang jelas, dan kepercayaan masyarakat tetap diperlukan.

Menurut dia, modernisasi perpajakan juga harus didukung sistem administrasi yang terintegrasi. Indonesia telah meluncurkan Coretax pada Januari 2025 untuk mengintegrasikan berbagai proses administrasi perpajakan.

Nurkholishoh menyebut lebih dari 13,5 juta pelaporan SPT telah masuk melalui sistem tersebut pada tahun ini. Penggunaan data dari pemberi kerja dan perbankan juga mendukung kemudahan pengisian pelaporan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya