Berita

Media briefing yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR). (Foto: RMOL)

Bisnis

Indonesia Bisa Kalah Saing dari Malaysia dan Vietnam jika Terlambat Elektrifikasi

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 11:25 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Peralihan dari energi fosil menuju listrik perlu dipercepat agar Indonesia tidak kehilangan daya saing dibandingkan negara lain, khususnya Malaysia dan Vietnam.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, mengatakan elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan transisi energi, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Kalau Indonesia tidak segera beralih, kita akan kehilangan daya saing,” kata Imaduddin dalam media briefing yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR), Selasa, 13 Oktober 2026.


Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 8 persen harus didukung perubahan struktur energi, dari penggunaan energi fosil menuju pemanfaatan listrik yang lebih luas di berbagai sektor ekonomi.

Ia menilai, elektrifikasi dapat memberikan dampak langsung terhadap produk domestik bruto (PDB). Karena itu, strategi pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan investasi besar, tetapi juga harus memastikan investasi tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Buat apa nilai investasi tinggi kalau tidak menghasilkan lapangan kerja?” ujarnya.

Imaduddin mengingatkan, keterlambatan dalam mempercepat elektrifikasi berisiko membuat Indonesia tertinggal dari negara-negara pesaing yang lebih dahulu mengembangkan ekosistem industri berbasis listrik.

“Kalau kita telat elektrifikasi, kita sudah kehilangan, kalah cepat dengan Malaysia dan Vietnam,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, elektrifikasi berpotensi memunculkan sektor-sektor ekonomi baru yang dapat memperluas kesempatan kerja. Berdasarkan paparannya, peluang tersebut diperkirakan dapat menciptakan sekitar 48 ribu lapangan kerja.

Menurut Imaduddin, pengembangan sektor-sektor baru melalui elektrifikasi menjadi salah satu jawaban untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sekaligus memperkuat daya saing nasional.

Upaya tersebut sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen melalui hilirisasi, investasi, perluasan pasar ekspor, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Dalam konteks itu, program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan pemerintah pada 25 Agustus 2026 menjadi salah satu momentum untuk mempercepat elektrifikasi nasional.

Kajian IESR bersama Energy Transitions Commission (ETC), INDEF GTI, dan Systemiq bertajuk Powering Indonesia’s Growth: A More Electrified, More Renewable Economy with Solar at Its Core juga menunjukkan potensi ekonomi dari percepatan elektrifikasi.

Kajian tersebut memperkirakan peningkatan elektrifikasi yang disertai pemenuhan kebutuhan listrik, terutama melalui PLTS dan penyimpanan energi baterai, dapat memberikan tambahan PDB langsung sebesar 160 miliar dolar AS.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 8–10 persen dari PDB nominal Indonesia pada 2026.
Elektrifikasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen. 

Dengan demikian, percepatan elektrifikasi dan pengembangan energi terbarukan dinilai dapat menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru, memperluas lapangan kerja, dan membangun perekonomian Indonesia yang lebih kompetitif.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya