Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih sulit bangkit ke level 8.000-9.000 seperti awal tahun 2026 dalam satu bulan ke depan.
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai tekanan di pasar saham masih terus berlanjut, terlebih sejumlah saham konglomerasi yang kini terus merosot.
“Dari awal selalu saya bilang ke orang-orang gitu bahwa kalau ngarepin IHSG naik sampai 9 ribu lagi kayak dulu nih, di awal tahun 2026, itu tidak akan terjadi. Jangankan ke 9.000, ke 8.000 aja itu susah,” kata Teguh kepada RMOL, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia mengatakan lonjakan IHSG pada 2025 dan awal 2026 lalu banyak ditopang kenaikan pesat saham konglomerasi yang kini justru mengalami koreksi.
Menurutnya, kenaikan harga saham kelompok tersebut sejak awal dinilai tidak wajar sehingga memicu keberatan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ia mencontohkan sejumlah saham yang sempat mencatatkan lonjakan harga signifikan sepanjang 2025, di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
“Karena waktu di tahun 2025 kemarin IHSG kita naik setinggi itu karena saham-saham konglo. BUMI sempat sampai Rp400, BREN sempat sampai Rp12 ribu, kemudian DSSA Rp4 ribu, macam-macam lah. Nah sekarang saham-saham itu turun semua dan nggak akan naik lagi karena sejak awal kenaikan saham-saham tersebut tidak wajar dan itulah yang kemudian bikin MSCI protes sama kita,” ujarnya.
Menurut Teguh, tekanan pasar juga berpotensi berlanjut menjelang evaluasi MSCI pada awal November 2026. Dalam evaluasi tersebut, MSCI akan mengumumkan status Indonesia di kelompok pasar emerging market atau berpotensi turun ke frontier market yang saat ini sedang dicermati investor.
Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpotensi kembali menerbitkan kebijakan baru sebagai upaya reformasi pasar modal, yang justru dapat memicu tekanan lanjutan pada saham-saham konglomerasi.
“Intinya, BEI akan melakukan apa pun untuk menyenangkan MSCI. Sejak awal, BEI sudah memutuskan untuk berpihak kepada MSCI daripada saham-saham konglomerasi. Artinya, saham-saham konglomerasi akan terus turun,” kata Teguh.
Jika tekanan tersebut berlanjut, ia memperkirakan IHSG berpotensi terkoreksi ke level 5.800 hingga 5.600 dalam satu bulan ke depan.
“Kalau memang betul begitu, IHSG juga akan turun. Mungkin ke 5.800, mungkin ke 5.600, dan seterusnya. Ini prediksi untuk satu bulan ke depan, sampai November,” jelasnya.
Meski demikian, Teguh mengingatkan investor agar tetap memperhatikan fundamental emiten dalam mengambil keputusan investasi. Ia menilai saham-saham dengan fundamental kuat, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), berpotensi mengalami koreksi yang lebih terbatas di tengah tekanan pasar.
“Namun, tidak jadi masalah kalau kita memegang saham fundamental. Kalau kita memegang BBCA dan saham-saham sejenis, penurunannya hanya sedikit. Kalau punya uang tunai, kita bisa membeli lagi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Teguh memperkirakan kinerja keuangan emiten pada kuartal III-2026 masih relatif baik. Rilis laporan keuangan tersebut diharapkan menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor di tengah tekanan pasar menjelang evaluasi MSCI pada November mendatang.
“November nanti juga bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartal III. Prediksi saya, hasil kinerja perusahaan masih tetap bagus,” tandasnya.