Berita

Ilustrasi

Bursa

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

SENIN, 12 OKTOBER 2026 | 20:28 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih sulit bangkit ke level 8.000-9.000 seperti awal tahun 2026 dalam satu bulan ke depan.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai tekanan di pasar saham masih terus berlanjut, terlebih sejumlah saham konglomerasi yang kini terus merosot.

“Dari awal selalu saya bilang ke orang-orang gitu bahwa kalau ngarepin IHSG naik sampai 9 ribu lagi kayak dulu nih, di awal tahun 2026, itu tidak akan terjadi. Jangankan ke 9.000, ke 8.000 aja itu susah,” kata Teguh kepada RMOL, Senin, 12 Oktober 2026.


Ia mengatakan lonjakan IHSG pada 2025 dan awal 2026 lalu banyak ditopang kenaikan pesat saham konglomerasi yang kini justru mengalami koreksi. 

Menurutnya, kenaikan harga saham kelompok tersebut sejak awal dinilai tidak wajar sehingga memicu keberatan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ia mencontohkan sejumlah saham yang sempat mencatatkan lonjakan harga signifikan sepanjang 2025, di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

“Karena waktu di tahun 2025 kemarin IHSG kita naik setinggi itu karena saham-saham konglo. BUMI sempat sampai Rp400, BREN sempat sampai Rp12 ribu, kemudian DSSA Rp4 ribu, macam-macam lah. Nah sekarang saham-saham itu turun semua dan nggak akan naik lagi karena sejak awal kenaikan saham-saham tersebut tidak wajar dan itulah yang kemudian bikin MSCI protes sama kita,” ujarnya.

Menurut Teguh, tekanan pasar juga berpotensi berlanjut menjelang evaluasi MSCI pada awal November 2026. Dalam evaluasi tersebut, MSCI akan mengumumkan status Indonesia di kelompok pasar emerging market atau berpotensi turun ke frontier market yang saat ini sedang dicermati investor.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpotensi kembali menerbitkan kebijakan baru sebagai upaya reformasi pasar modal, yang justru dapat memicu tekanan lanjutan pada saham-saham konglomerasi.

“Intinya, BEI akan melakukan apa pun untuk menyenangkan MSCI. Sejak awal, BEI sudah memutuskan untuk berpihak kepada MSCI daripada saham-saham konglomerasi. Artinya, saham-saham konglomerasi akan terus turun,” kata Teguh.

Jika tekanan tersebut berlanjut, ia memperkirakan IHSG berpotensi terkoreksi ke level 5.800 hingga 5.600 dalam satu bulan ke depan.

“Kalau memang betul begitu, IHSG juga akan turun. Mungkin ke 5.800, mungkin ke 5.600, dan seterusnya. Ini prediksi untuk satu bulan ke depan, sampai November,” jelasnya.

Meski demikian, Teguh mengingatkan investor agar tetap memperhatikan fundamental emiten dalam mengambil keputusan investasi. Ia menilai saham-saham dengan fundamental kuat, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), berpotensi mengalami koreksi yang lebih terbatas di tengah tekanan pasar.

“Namun, tidak jadi masalah kalau kita memegang saham fundamental. Kalau kita memegang BBCA dan saham-saham sejenis, penurunannya hanya sedikit. Kalau punya uang tunai, kita bisa membeli lagi,” ungkapnya.

Di sisi lain, Teguh memperkirakan kinerja keuangan emiten pada kuartal III-2026 masih relatif baik. Rilis laporan keuangan tersebut diharapkan menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor di tengah tekanan pasar menjelang evaluasi MSCI pada November mendatang.

“November nanti juga bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartal III. Prediksi saya, hasil kinerja perusahaan masih tetap bagus,” tandasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya