Ilustrasi masjid/Unsplash
Para ilmuwan yang mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi di Indonesia tengah menguji coba penggunaan pengeras suara masjid sebagai alarm darurat guna menjangkau wilayah-wilayah terpencil.
Proyek uji coba berdurasi lima tahun ini menilai apakah pelantang suara yang biasa digunakan untuk mengumandangkan azan dapat berfungsi ganda sebagai sirine peringatan dini bencana.
Gagasan ini merupakan buah pemikiran Dr. Inoue Hiroshi, ilmuwan mitigasi bencana dari Disaster Prevention Research Institute di Kyoto University, Jepang, yang tercetus setelah ia meneliti gempa bumi mematikan di Sumatra hampir dua dekade lalu.
"Setiap komunitas memiliki masjid," ujar Dr. Inoue Hiroshi mengutip The Guardian.
Mengenang kembali gempa bumi dahsyat tahun 2009 di Sumatra Barat yang menelan korban jiwa setidaknya 1.000 orang, ia mengungkapkan, "Saya pikir jika Indonesia memiliki layanan yang sama dan orang-orang menerima peringatan sebelum guncangan datang, maka banyak orang di antara ratusan korban jiwa tersebut tidak akan meninggal."
Di tengah tantangan geografis Indonesia yang luas dan sulit dijangkau, keberadaan ratusan ribu masjid memberikan keunggulan tersendiri karena infrastruktur pengeras suaranya sudah mapan dan dirawat secara swadaya oleh masyarakat.
"Keunggulan pengeras suara masjid adalah perangkat tersebut sudah ada dan terawat dengan baik," jelas Dr. Inoue Hiroshi.
"Untuk infrastruktur bencana apa pun, pemeliharaan adalah tantangan besar... tetapi pengeras suara masjid dipelihara oleh masyarakat," ujarnya menambahkan.
Inisiatif yang berjalan hingga 2030 ini dikerjakan bersama tim peneliti gabungan Jepang dan Indonesia, termasuk Andi Eka Sakya selaku peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus kepala tim riset pihak Indonesia.
Menurutnya, inisiatif ini bisa menjadi sebuah terobosan baru dalam mitigasi gempa setelah sistem peringatan dini tsunami diperkenalkan pada tahun 2008. Kendati demikian, Andi Eka Sakya menekankan bahwa program ini masih berada dalam tahap pengembangan.
"Ini masih berupa prototipe, dan mereka belum mengeluarkan peringatan kepada publik. Tujuan akhirnya sebenarnya adalah untuk memperingatkan masyarakat agar mereka dapat merespons secepat mungkin," ujar Andi.
Selain menghubungkan beberapa masjid ke jaringan sensor seismik, proyek ini turut mengkaji pemasangan alarm di sekolah-sekolah serta optimalisasi siaran radio dan televisi.
Para periset juga menyoroti perbedaan pola evakuasi, di mana struktur bangunan rumah di Indonesia yang rentan runtuh membuat masyarakat terbiasa menyelamatkan diri dengan berlari keluar ruangan secara cepat saat gempa terjadi.