Berita

Gedung Bursa Efek Indonesia. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bursa

IHSG Rontok 2,59 Persen, Pengamat: Saham Konglo Biang Kerok

SENIN, 12 OKTOBER 2026 | 18:21 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Saham-saham konglomerasi menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 2,59 persen ke level 5.936 pada penutupan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai, koreksi indeks kali ini terutama dipicu penurunan sejumlah saham konglomerasi yang memiliki kapitalisasi pasar besar.

Sementara itu, saham-saham dengan fundamental kuat dinilai relatif lebih mampu bertahan di tengah tekanan pasar.


“Malah ada juga beberapa yang naik sendiri,” kata Teguh kepada RMOL, Senin, 12 Oktober 2026.

Teguh mencontohkan sejumlah saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang masing-masing terkoreksi 11,48 persen dan 10,15 persen.

Berdasarkan data Stockbit, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga anjlok 14,95 persen, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) merosot 14,94 persen.

Tekanan serupa terjadi pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas yang turun 14,60 persen, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Grup Bakrie yang melemah 8,33 persen.

“Itulah yang membuat pasar saham kita, IHSG kita, turun. Jadi, saham-saham konglomerasi yang turun,” kata Teguh.

Menurut Teguh, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi kapitalisasi pasar saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena itu, penurunan saham berkapitalisasi besar dapat memberikan dampak besar terhadap indeks secara keseluruhan.

“Kalau ada saham yang market cap-nya kecil, mau dia turun sampai Rp1 sekalipun, itu nggak ngaruh ke IHSG. Tapi saham-saham konglo ini market cap-nya gede-gede semua, ratusan triliun semua. Jadi kalau mereka turun, IHSG akan ikut turun,” kata Teguh.

Teguh menilai, kondisi tersebut tidak terlepas dari reli saham-saham konglomerasi yang turut menopang kenaikan IHSG sepanjang 2025.

Saat itu, sejumlah saham mencatatkan lonjakan harga signifikan, di antaranya BUMI yang sempat menyentuh Rp400 per saham, BREN hingga Rp12.000, dan DSSA sekitar Rp4.000. Namun, pembalikan arah saham-saham tersebut kini menjadi tekanan bagi indeks. 

“Sekarang saham-saham itu turun semua dan tidak akan naik lagi karena sejak awal kenaikan saham-saham tersebut tidak wajar. Itulah yang kemudian membuat MSCI (Morgan Stanley Capital International) protes kepada kita,” kata Teguh.

Ia menduga kenaikan sejumlah saham konglomerasi sebelumnya berkaitan dengan praktik perdagangan terkoordinasi atau coordinated trading.

“Sejak awal saham-saham itu naik karena digoreng, karena ada bandarnya. Kalau bahasanya MSCI, coordinated trading. Yang jual dan yang beli itu orang yang sama. Manipulasi, ya, gorengan seperti itu,” ungkap Teguh.

Menurutnya, sorotan MSCI terhadap persoalan tersebut membuat aktivitas perdagangan yang sebelumnya mendorong kenaikan harga saham mulai berkurang.

“Itu yang kemudian diprotes oleh MSCI. Karena diprotes MSCI, bandarnya tidak berani menggoreng lagi. Kalau tidak ada yang menggoreng, orang kemudian melihat ke fundamental,” kata Teguh.

Teguh memperingatkan, jika saham-saham tersebut kembali mengalami kenaikan yang dinilai tidak wajar, tekanan dari MSCI terhadap pasar modal Indonesia berpotensi semakin besar.

“Kalau itu dibiarkan naik lagi, MSCI akan protes lebih besar lagi. Kemudian, pasar saham kita bisa turun ke frontier market dari sebelumnya emerging market,” kata Teguh.

Ia juga menilai, upaya BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memenuhi kriteria MSCI, termasuk melalui pembenahan transparansi kepemilikan saham dan ketentuan free float, berpotensi menambah tekanan terhadap saham-saham konglomerasi.

Di sisi lain, Teguh menjelaskan, ketika investor kembali mencermati fundamental perusahaan, harga saham akan semakin dipengaruhi valuasi dan kinerja bisnis masing-masing emiten.

“Maksudnya melihat fundamental itu bagaimana? Valuasinya, kinerja perusahaannya, dan seterusnya. Sahamnya otomatis turun,” sambungnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan IHSG tidak serta-merta mencerminkan memburuknya seluruh saham di pasar. Saham-saham dengan fundamental kuat dinilai masih memiliki prospek berbeda karena pergerakannya tidak semata-mata ditentukan oleh sentimen terhadap saham konglomerasi.

“Saham fundamental memang turun juga, tetapi masih wajar, tidak sedalam penurunan IHSG itu sendiri. Jadi, kita bisa fokus ke saham-saham fundamental lagi,” tandas Teguh.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya