Berita

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto. (Foto: RMOL)

Politik

SDR:

Sidang PHPU Gibran di MK seperti Tontonan Sirkus

MINGGU, 11 OKTOBER 2026 | 13:31 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, melontarkan kritik keras terhadap persidangan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang berkaitan dengan pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.

Hari menyoroti tidak dipanggilnya Gibran dalam persidangan perkara tersebut. Ia menilai kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai ruang demokrasi dan kesempatan bagi pihak yang menjadi sorotan untuk memberikan penjelasan dalam proses persidangan.

"Memang ketika kita memilih sebuah ruang demokrasi, ketika reformasi 98 pembuka ruang tersebut, memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden, ini sudah cukup jelas," kata Hari kepada RMOL, Minggu, 11 Oktober 2026.


Hari kemudian melontarkan kritik terhadap partai politik yang dinilainya lebih berorientasi pada kepentingan tertentu.

"Memang dari dulu partai itu pemburu rente dan parlente. Jelas," tegasnya.

Hari secara khusus mempersoalkan tidak diberikannya kesempatan kepada Gibran untuk hadir dan menunjukkan atau menjelaskan hal-hal yang menjadi persoalan dalam gugatan tersebut.

"Jadi saya melihat Gibran juga tidak bisa diberikan kesempatan menunjukkan. Kan para hakim nggak memanggil, nggak mengizinkan. Artinya ruang demokrasi saja sudah tidak dilakukan di MK padahal kita memilih demokrasi," tutur Hari.

Hari kemudian menggunakan perumpamaan sirkus untuk menggambarkan kritiknya terhadap jalannya persidangan. Ia mempertanyakan pihak-pihak yang berada di balik dinamika perkara tersebut dan menyerahkan penilaian kepada masyarakat.

"Kita kan cuma melihat pemain sirkus, yang memadukan MK itu semua pemain sirkus, siapa tokek sirkus yang bermain biar masyarakat menilai," terang Hari.

Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang diajukan Denny Indrayana dan kawan-kawan berkaitan dengan gugatan PHPU mengenai pencalonan Gibran dalam Pilpres 2024. Berdasarkan bahan yang disampaikan, perkara tersebut didaftarkan pada 10 September 2026 dan diputus pada 6 Oktober 2026.

Dalam amar putusannya, majelis hakim MK yang dipimpin Suhartoyo menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima atau niet ontvankelijke verklaard (NO).

Perhatian juga tertuju pada pertimbangan hukum putusan tersebut mengenai bukti pendidikan Gibran. Dalam bahan perkara yang disampaikan, majelis hakim disebut menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang setara dengan jenjang SMA atau sederajat.

Persoalan tersebut berkaitan dengan ketentuan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 19/2023 tentang Pencalonan Peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Pasal 13 Ayat 1 huruf r mengatur persyaratan pendidikan paling rendah tamat SMA atau sederajat bagi calon presiden dan wakil presiden. Sementara itu, Pasal 18 Ayat 1 huruf m mengatur dokumen pendidikan yang harus disertakan sebagai bukti pemenuhan persyaratan tersebut.

Namun, Pasal 18 Ayat 3 PKPU yang sama juga mengatur pengecualian bagi bakal calon presiden atau wakil presiden yang tidak memiliki bukti kelulusan sekolah menengah atas atau sederajat dari sekolah asing di luar negeri, tetapi telah memiliki bukti kelulusan perguruan tinggi.

Ketentuan pengecualian tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai persyaratan administrasi pencalonan Gibran.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya